Futural, ialah Hernita si peramal dan juga bisa baca pikiran seseorang. Desternal, Sesungguhnya Radhit dapat menerawang, Bahkan ia bisa menentang takdir seseorang. and I’m supranatural..si pengendali kekuatan.
Sebelumnya, gue memantau ruang ekslabor guna memastikan seberapa jauh perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini. Nyatanya memang tak ada lagi korban kerasukan, tapi ini bukan berarti aman! Sekolah ini musti dikontrol setiap kali, bahaya jika mahluk itu kembali datang.
Siang ini tak ditemukan suatu tanda-tanda yang tertinggal. Tetapi seseorang yang hadir malah membuat gue merasa tak tenang. Percayakah jika si pemberani itu perempuan, dan bukan seorang Nita yang gue kenal.
Gue terenyah pada satu-satunya sofa yang ada diruang OSIS, spontan Nita dan Radhit menoleh ke arah gue. mereka masih memandangi gue dengan penuh rasa curiga. Kali ini, apa lagi maunya gue, pikir mereka.
“Soal Tere??” tebak Nita, jelas Nita pasti tau..
“Apa bener, Mohad punya daya tarik yang luar biasa hingga membuat orang jadi pada mencintainya?? Apakah pellet itu punya kelemahan?”
“Aura seperti itu tak ada kelemahan, tapi yang ada pantangan!” Jelas Radhit.
“Apa-apa saja pantangannya?”
“Hend, syarat seperti itu tidak lazim diketahui. Dan orang yang bersangkutan mana mau membeberkannya secara gamblang..” tambah Radhit
“Kalo begitu, Nita pasti lebih tau…” tegas gue
“Tidak semuanya dapat gue ketahui dengan mudah!” Nada bicara Nita tidak biasa, sepertinya ia tersinggung.
Nita bangkit dari tempat duduknya, ia mengajak Radhit pergi. Dan pastinya Radhit memilih ikut, ketimbang meladeni gue yang tak berkesudahan.
Namun, pada saat mereka hendak melangkah keluar. Tiba saja jantung gue mendadak terasa amat menyakitkan, gue meronta tak kuasa menahannya. Makin lama, makin terasa perih. Tak sadar lagi, posisi sudah terombang-ambing dilantai ruangan.
Gue udah berteriak minta tolong pada dua sahabat gue, tapi mereka menganggap ini hanya lelucon. Atau sebagian dari acting, karna mau gue tak terpenuhi. Lama-kelamaan, rasa ini tak membuat gue mampu bertahan hingga pingsan…
***
Siuman, entah berapa lama kemudian? Tau-tau gue sudah berada di kamar opname. Inipun tak merasa nyaman, sisa sakitnya masih ada. Aneh, baru kali ini parahnya. Padahal, gue tak mengidap penyakit apapun, bahkan dijantung!
“Apa yang lo rasain?” Tanya Radhit khawatir
“Dhit, gue berasa aneh?”
Sempat gue melirik kearah Nita yang berdiri rada jauh dari ranjang tidur gue, apa ia merasa bersalah hingga malu tuk mengungkapinya? Atau dia masih tersinggung dengan ucapan gue sebelum ini terjadi.
“Nita, gue minta maaf…”
“Tidak perlu!” jawabnya kasar “Sebaiknya lo jaga kesehatan, karna gue gak bisa lama-lama disini..”
“Kenapa?? Sepertinya lo marah besar..”
“Tidak ada kaitannya dengan masalah…”
Pembicaraanya terpotong, karna gue melihat sosok gadis yang baru gue kenal datang mendekati dan memeluk tubuh gue secara tiba-tiba. Ini lebih berasa nyaman dari sebelumnya.
Rangkulan itu ia lepas dengan sendirinya dan ia mengucapkan rasa kekhawatirannya
“Lu gak pa-pa?”
Jujur gue merasa tak sabar ingin mengungkapkan betapa besar rasa sayang gue padanya jika begini terus keadaanya. Ia sanggup memberi gue kehangatan lebih dari yang gue dambakan. Gue tak mau kehilangan Tere, seperti dulu gue sempat mencari keberadaanya. Dan senyumnya kali itu, membuat perasaan gue bagai tak mengalami derita.
“Tere… sebenarnya.. gue….gue…” kata gue berbata. Menahan rasa sakit demi mengungkapkan kabar yang membahagiakan.
Tere menunggu ucapan gue selanjutnya, namun Nita keburu membuyarkan konsentrasi gue. Ia tak kalah jenuh dari sebelumnya, mungkin suasananya berubah tak nyaman atau apalah hingga ia ingin rasanya cepat-cepat keluar ruangan dan menghirup udara bebas, lepas dari pengap. Tak ketinggalan, Radhit pamit setelahnya.
***
Kondisi masih belum pulih, anehnya hasil ronsen menunjukkan tak ada penyakit parah di organ tubuh gue, semuanya beraktifitas normal, termasuk area jantung yang tadinya terasa amat sakit. Saat ini Radhit menemani gue cek out dari rumah sakit, dan begitu nyampe dikamar pribadi, disambut hangat keluarga. Spirit gue bangkit lagi.
“Radhit, gimana kabar lo sama Nita?” tutur gue lembut.
“Hmm.. begini…” Radhit terlalu plin-plan tuk menjelaskannya.
Gue paham, mungkin mereka belom jadian sampai sekarang, atau Radhit masih menunggu jawaban. Lebih baik ngebahas soal yang lain saja, mungkin bisa kerasa lebih nyaman.
“Nita masih membenci gue?”
“Oh, bukan.! Saat ini dia lagi bermasalah... tak ingin diganggu” ujarnya ngeles
Selang berapa lama, pintu kamar terketuk dan Tere yang masuk.
“Hend, gua tau kejadian yang lu alami kemaren. Ciri-cirinya sama persis seperti buku yang pernah gua baca sebelumnya. ketika yang terasa sakit hanya sebagian yang ditentukan saja.”
Gue sama Radhit hanya bisa bengong mendengar penjelasannya
“Ia menggunakan boneka dan jarum sebagai medianya untuk melukai dan membuat lu agar pelan-pelan merasakan derita yang membara hingga menjemput kematian. Ini yang biasa disebut Voodoo. Ini tabu. Masalahnya, kita gak tau siapa yang melakukannya?”
“Lo yakin?...” gue bimbang dan gue mengusap wajah dengan kedua tangan “Mungkinkah, Mohad yang ingin mencelakakan gue????”
***
Ternyata Mohad merasa tak puas dengan keberadaan gue sebagai pahlawan sekolah, bukan gue yang pengen narsis, tapi julukan itu sudah terlanjur menyebar. Entah siapa yang memulai? bahkan Tere memutuskan hubungannya demi membela gue, dan ini yang bikin rasa berangnya memuncak. Ia menggunakan Voodoo sebagai media pembasmi gue, namun gagal.
Tere bisa mengira bakal begini jadinya. Ia mau bertanggung jawab atas segalanya. Kebetulan keadaan gue udah baikan seutuhnya.. gue dan Tere siap tempur ke markas tuk membela kebenaran.. dan gue menemukan Mohad dengan rombongannya di area kantin sekolah.
Jelas saja Mohad terkejut melihat gue nyaris tak memiliki bekas luka.
“Wow,.. lo putus dengan gue. demi dia, kan?” umpatnya
Gue sama Tere saling bertatapan heran. Apalagi maunya dia?
“Mohad, apa maksud lo mencelakakan gue lewat guna-guna?”
“Apa maksud lo, Hend? Lo bener-bener mo jadi pahlawan disini dengan menuduh gue sebagai musuhnya?... Begitu?”
“Pengecut!... Pecundang!..” maki Tere memanas.
“Plaaaakk!!..” didepan mata gue, Mohad menampar wajah Tere begitu kasar.
“Terserah lo mo bilang apa?” katanya sok “Tapi, bukannya lo yang disebut pecundang!”
Begitu mendengar Tere diremehkan dan ditindas semena-mena, membuat gue bertindak cepat memukulnya. Sebuah bogem mentah mendarat mulus dipipinya. Gue puas membalas hinaan itu, meski kelompoknya baru berusaha ikut-ikutan menyerang. Namun gue gak takut, walau mereka ada seribu manusia sekalipun..
Perbuatan ini mengundang perhatian hingga mendatangkan beberapa guru tuk melerai perkelahian itu, gue cuma bisa diam karna pastinya gue yang disalahkan..
Tapi tiba-tiba sesuatu yang tak nampak menabrak gue, kekuatan yang membentur ini selayak dinding dan tak bisa ditahan oleh tubuh hingga terpental beberapa meter kebelakang. Jelas, menurut pandangan normal, seakan mustahil tapi nyata. Semua yang menyaksikan sampai bengong. Ada apa sebenarnya? Ini tampak seperti perang mental
Gue bangkit setelahnya, hendak membalas serangannya. Tapi terjadi hal yang tak terduga. Mohad tiba saja berteriak kesakitan seraya meronta kesana-kemari. Padahal gue belum mengendalikan kekuatan apapun? Kenapa bisa begitu??
Kejadian ini seakan sama halnya seperti kejadian gue waktu itu. Tak salah lagi, tingkah itu sama persis yang gue alami. Gue bisa ngebayangi betapa perihnya.. tapi anehnya, siapa yang melakukan ini? Jelas, bukan gue!
Teriakan Mohad semakin keras. Sahabatnya, bahkan sama sekali tak tau mesti ngapain, melihatnya dalam keadaan begitu membuat merekapun mati rasa. Atau mungkin mereka sempat berfikiran ini pasti ulah gue! Dan gue bergegas memeluk tubuhnya, berusaha menyelamatkannya.
Mohad terus mencengkram dada dibagian jantungnya, dan gue pun ikut menyentuhnya seraya mengendalikan kekuatan agar bisa mengurangi rasa sakitnya yang bergejolak. Ada perlawanan yang dashyat ketika itu, sesaat kemudian, kemampuan gue yang menang.
“Tere… cepat panggil ambulance!!!!” tereak gue terus merangkul Mohad yang masih menahan rasa sakitnya dan beberapa detik kemudian ia pingsan didekapan gue.
***
Gue hanya bisa menatap, ketika tubuh Mohad dimasukkan ke mobil ambulance dan dibawa pergi bersama Tere yang setia menemaninya. Tanpa gue sadar, nyaris semua penghuni berseragam berhamburan di tempat kejadian. Mereka mencurigai gue sebagai pelakunya, bahkan Hernita dan Radhit yang melihat gue dari kejauhan gak mau mendekat.
“Hendric!...” Panggil seorang pria setengah baya. Gak heran jika kepala sekolah turun tangan dengan masalah ini. “Ikut bapak ke kantor sekarang…”
Ini akan jadi issue yang menggemparkan nama sekolah, bahwa ada anak manusia punya berkekuatan super.. apa nantinya kata mereka terhadap gue?
Diruang yang penuh benda-benda sejarah sekolah ini, gue masih berdiri menunggu detik-detik keputusan apa yang akan gue terima nanti. Sambil menunduk pasrah..
“Awalnya, bapak kagum dengan kamu.. yang katanya pernah mengusir makhluk jahat penghuni sekolah ini. Bapak pernah tau bahwa tak mudah seseorang dapat melakukan itu, bahkan seorang berilmu tinggi sekalipun yang bapak undang tak dapat menakhlukannya.
Tapi bukan berarti bapak mengizinkan kamu menggunakan sihir pada temanmu sendiri. Mereka tak sebanding denganmu.. seharusnya kamu tau..”
“Tapi sebenarnya ini bukan sihir, ini juga bukan saya pelakunya, Pak! Tentu saya hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan sama sekali. Yang saya miliki adalah kekuatan perlindungan diri, tidak untuk mencelakakan seseorang yang bapak maksud. Apalagi mencelakakan Mohad, justru dialah yang menyebabkan ini terjadi..”
“Hendric, menurut data.. kamu belum satu bulan tinggal disekolah ini, tapi laporan yang bapak terima banyak sekali kejadian aneh akhir-akhir ini. Tentu bapak lebih mengenal siapa Mohad, ia bukan orang yang membuat kerusuhan apa-apa. Asal kamu tau, ia siswa andalan sekolah ini karna kecerdasannya
Kamu lihat tropi yang ada di etalase disamping kamu berdiri.. semua berkat dedikasinya terhadap sekolah. Ia sudah dikenal dengan prestasi, padahal ia baru beberapa bulan tinggal disini. Dan bukannya bapak ingin membela siapapun atau bapak ingin menantang kekuatan yang kamu miliki… bapak tidak punya itu, Hend. Tapi bapak tidak takut apapun, bapak hanya minta control emosi kamu. Ingat, kamu sebenarnya istimewah tapi kendalikanlah keistimewaanmu untuk sesuatu yang benar…”
Dan gue terus terpaksa mendengar ocehan orang tua itu. Rasanya, percuma gue membela diri. Sepertinya si tua bangka ini pun sudah terpengaruh sama pelletnya Mohad.
Kejadian itu jadi pelajaran berarti bagi gue, meski gue keukeuh pada pendirian gue tanpa harus mempengaruhi yang lain. Dan gue sadar, awalnya gue sendiri disini, tak kenal siapapun. Seharusnya gue mesti begitu, selamanya begitu..
“Sekarang,.. tolong kamu tanda tangani surat ini..”
***
Gue gak sempet baca ataupun nanya surat apa gerangan? Yang penting gue bisa lari dari tempat yang pengap itu, sama akal bulusnya yang masih percaya dan mempertahankan anak didiknya.
Gue benci semuanya, mengapa semua gak ada yang percaya pada gue? Mengapa harus gue yang disalahkan? Apa karna apa???.. gue tidak ingin benci pada mereka, tapi sebenarnya gue benci pada diri gue sendiri … dan gue mau mencari ruang yang aman buat gue sendirian, sebuah tempat rahasia yang kini gue rasa bahwa inilah rumah gue. Diruang ekslabor, gue termenung sendiri sampai akhirnya menangis. Gue cuma ingin nangis, hanya itu..
“Hendric…” terdengar suara lembut menyapa gue
Yang tadinya kepala gue tertunduk perlahan-lahan menoleh kewajah perempuan itu.
“Tere..” balas gue. Sialnya, dia liat gue nangis. Seorang cowok nangis, apa yang ada dipikirannya? Padahal gue bukan tipe cowok cengeng. “Gimana kabar Mohad?”
“Dia gak papa! Dia sempat mengucapkan terima kasih pada lu, karna telah menyelamatkan nya dari maut.”
“Syukurlah..”
“Lu kenapa?” Tanya Tere. Tanpa kata-kata lagi ia kemudian memeluk tubuh gue, membuat gue merasa lebih lega. “Gua bisa merasakan betapa berat beban yang lu pikul, sebaiknya lu diam saja, semoga ini bisa membuat lu jauh lebih tenang”
“Tere, sebenarnya.. gue bisa lebih nyaman. Jika lo jadi pacar gue, gue butuh perlindungan dari lo. Cuma lo yang bisa memberikan kehangatan ini..”
“Maaf, Hend. Gua lebih mencintai Mohad..”
Mendengar itu, gue menyingkirkan tubuhnya dari tubuh gue, rasa tak percaya itu datang lagi. Sembari menatap matanya dengan jawaban yang tak yakin.
“Tere, lo musti sadar kalo lo kena pengaruh peletnya..”
“Enggak, Hend. Gua mencintainya tulus.. bukan karna itu”
“Apa yang membuat lo yakin?”
“Karna…karna.. gua punya ini.” Ia menunjukkan sebuah kalung bermata indah, dan gue masih gak ngerti apa maksudnya?
“Ini adalah kalung keberuntungan pemberian kakak gua, untuk menyangkal kekuatan jahat yang akan melukai gua. Kalung ini sangat berguna, selagi tak bercahaya, artinya gua dalam keadaan aman-aman saja, dan selama bersama Mohad, kalung ini tak berpengaruh apapun. Artinya memang tak ada niat jahat dihati Mohad…”
DAMN IT!!!.. gue konsisten pada pemikiran awal gue tadi. Gue mau hadapi semua ini dengan sendiri saja, tanpa siapapun!!!!!!.............
Tidak ada komentar:
Posting Komentar