Rabu, 18 Januari 2012

Supranatural

Sebelumnya, disebuah ruang kosong rada bau jamur, gue gak tau tadinya ruangan ini bekas laboratorium gagal praktik dan sempat membakar lebih dari tiga puluh siswa yang sedang melakukan eksperimen.

Kejadiannya berkisar sepuluh tahunan yang lalu, sampai sekarang beritanya masih simpang siur jika di hubungkan dengan korban kerasukan yang terjadi  akhir-akhir ini. Tak ada yang berani memasuki zona ini, termasuk kaum kufron itu. Kecuali Radhit, Nita dan tuk pertama kalinya, ialah gue.
Tetapi dihari berikutnya, takkan ada lagi peristiwa buruk yang menimpa sekolah itu, karna gue tlah perintahkan penghuninya untuk mengungsi dan menetap pada golongannya. Meski sebelumnya, gue sempat kerasukan seperti wangsit lainnya karna lemah, tak berkekuatan.

Lagi, gue memantau ruang ekslabor guna memastikan seberapa jauh perkembangan yang terjadi kini. Nyatanya memang tak ada lagi korban kerasukan, tapi ini bukan berarti aman! Sekolah ini musti dikontrol setiap kali, bahaya jika mahluk itu kembali datang.

Siang ini tak ditemukan suatu tanda-tanda kehidupan lain yang tertinggal. Tetapi seseorang yang hadir malah membuat gue merasa tak tenang. Percayakah jika si pemberani itu perempuan, dan bukan seorang Nita yang gue kenal.

“Apa yang lo lakui disini?” Tanya gue sinis

“Observ!” jawabnya cuek. Sumpah, ni cewek jutek tapi cantik banget.

“Disini berbahaya, lo gak takut?”

“Gak ada yang perlu ditakuti. karna gue yakin, penghuninya tlah pergi,..”

Aneh! Gadis ini benar-benar gak peduli sama nyawanya.  Masih inget waktu gue datang kesini sendiri, langsung menjadi koban kerasukan. Sementara ia enggak, kecuali jika ia bukan wangsit, ialah keturunan dari nenek moyang yang dulu pernah memiliki kemampuan ilmu mistik.

“Nama lu Hendric, kan? Kalo gak salah, lu yang terakhir menjadi korban.”

Gue terus memperhatikannya seraya tak berkomentar apapun

“Lu juga bersahabat dengan Radhit dan Hernita! lu tau, mereka berdua difference, mana mungkin mereka menerima pertemanan jika dia bukan dari golongan yang sama. Artinya, lu sama saja seperti mereka..”
“Apa yang jadi masalah buat Lo?”

“Jangan su udhon!” jawabnya “Gua hanya manusia biasa, tak ada kekuatan seperti yang lu kira. Jika lu pikir gua kesini mo menantang…”

“Trus, apa latar belakang lo observ?”

Ia kemudian tersenyum, bagai terjadi sesuatu yang beda saat memandang wajahnya, dan apa maksud dibalik senyumnya? Masih mistery, rasanya ingin gue tanyakan, tapi ia keburu pergi. Bahkan gue tak sempat menanyakan siapa namaya! Sepertinya ia tak punya waktu kali ini. Jangan terburu… Hendric, lo percaya ama jodoh, kan?..

***

Gue gak pernah nyangka kesempatan itu hanya datang sekali, padahal seantero sekolah ini tak begitu besar. Pada saat bertemu dengannya, ia mengenakan seragam. Jadi tak mungkin jika ia bukan pelajar disini? Lalu kenapa sangat sulit bertemu dengannya? Sampe kebawa mimpi, saking penasarannya.

“Hendric! Lo sakit?? Kenapa wajah lo tampak pucat? Apa yang tlah terjadi?” Hernita menyambut gue pagi itu dengan ekspresi khawatir. “Gue bisa bikin lo lebih rilex dikit,..” Nita bicara begitu, karna ia Futural, ialah si peramal dan juga bisa baca pikiran seseorang.

Hernita kemudian menyentuh kepala gue dengan kedua tangannya, sepertinya ia berusaha me-restart pikiran, namun tiba-tiba gue mengelak, dan membuat kepala Nita yang jadi kesakitan. Gue lupa, bahwa gue bisa mengontrol segala kekuatan apapun. because I’m supranatural..

“Lo gak pa-pa, Nit?” Kata gue merasa bersalah seraya merangkul tubuhnya yang lemah “Sorry! Gue gak ada maksud tuk menyakiti lo, tapi gak sekarang, Nit!”

“Bro,! Nita kenapa?!!” Sahut Radhit begitu ada disamping kita berdua

Gue liat Nita menggeleng sambil menahan sakit, Radhit pasti heran.

Entah apa yang gue lakuin barusan? Gue telah menyakiti perasaan Nita, seorang yang sebenernya gue sayangi. Mungkin gue cuma takut, yang ada dipikiran gue, bisa ia baca!

Timbul kecurigaan yang membuat mood gue berubah tiba-tiba.

“Kenapa Mohad selalu menatap kearah kita?” Tanya gue mengalihkan pembicaraan

“Tak heran, tentu dia takkan pernah suka jika kita belum ingin jadi bagian darinya”

“Ga mungkin! Gue malah ngerasa dia ga’ punya dendam sedikitpun”

“Lo jangan salah! Lo ngerasa gitu, karna daya tariknya…” sangkal Nita. Sepertinya ia sudah baikkan.

Spontan gue tersenyum mendengar jawaban itu. Nita merasa diremehkan dan segera menjelaskannya.

“Bokapnya bisa jadi memasang susuk atau pellet yang menempel dibeberapa titik wajahnya.. dan setiap gadis, bahkan remaja seperti kita akan tunduk pada perintahnya. Lihat saja, begitu ia bergerak.. semua menatapnya seperti melihat idolanya saja, sampai tergila-gila…”

“Tapi kita bukan mereka??..”

“Tentu, karna kita punya keyakinan yang kuat. Jadi, lo tau alasannya kenapa Mohad membenci kita!! Ingat, sebaik apapun mereka, mereka tetaplah bani kufron” tambah Radhit.

Nita bangkit dari duduk, seraya membawa buku-buku yang dibawanya.

“Lo mo kemana,? Jam masuk masih lama..” Tanya Radhit ke Nita

“Entahlah, gue mo cari udara segar” jawabnya sambil tersenyum.

Gue sama Radhit melepas kepergiannya.

“Okey, lo belom cerita ke gue bagaimana cara mengendalikan kekuatan lo? Mengapa lo bisa disebut Desternal?”

Sejenak Radhit terlihat menarik nafas. Dan memulai membagi kisah sejarahnya

***

Radhit terlahir di tengah keluarga normal tetapi sangat disiplin terhadap urusan agama. Di suatu ketika, ia seakan mendapat mimpi yang membawa tubuhnya melayang ke angkasa. Atau terkadang dapat menembus lorong waktu seperti memasuki dimensi yang berbeda.

“Seperti apa?” Tanya gue heran

“Seperti sebuah pintu rahasia, yang membawa kita menembus waktu yang telah terlewatkan. Lo bakal melihatnya dengan nyata, hanya saja lo gak bisa mengubahnya..”

“Sebenarnya bisa, kan?”

“Menentang takdir, gue gak mau… teramat besar resikonya”

“Trus, hal besar apa yang pernah lo lakuin sebelumnya?”

“Gue pernah liat detik-detik gue lahir,.. atau gue pernah mengulang kejadian disaat gue nyaris mengalami kecelakaan tragis,..dan gue membatalkan kejadiannya”

“Maaf, pertanyaan yang ini agak menyimpang dari topic pembicaraan.” Ujar gue mengalihkan. Dengan perlahan gue berusaha agar tak menyakiti perasaannya “Sejak kapan lo kenal Nita? Keliatannya kalian kompak sekali”

“Awal taun ajaran baru! sudah jalan berapa bulan, sih?” katanya balik nanya “Gak nyampe dua bulan, kan? Kira-kira segitu lama gue mengenalnya”

“Gue boleh Tanya pribadi tentang perasaan lo terhadap Nita?”

“Bro, lo kenapa? Gak cemburu kan?” Radhit menganggap ini lelucon semata

Tapi gue sedikit serius “Gue minta lo jawab sekarang!”

Radhit seakan berbasa-basi. Entah apa yang dipikirkannya? Apakah ia ingin mengalihkan topic pembicaraan? Atau ia punya rencana yang tak terduga.

***

Rasanya, sungguh tak dapat dipercaya, tapi gue lega mendengar jawaban darinya meski agak sakit. Kali ini gue yakin, siapa yang pantas gue cintai walau belum pasti!

Nita bukan jodoh gue, biarlah ia bahagia bersama Radhit yang sejak awal memang ingin melakukan pendekatan. Demi persahabatan, gue lebih baik memilih mundur dan memilih kecewa sesaat. Daripada terus menahan luka yang tak kunjung usai. Yah, jika bukan gue yang terluka, pasti Radhit tentunya.

Menurut gue, jodoh buat gue sebenernya  pernah gue temui ditempat ini, sembari tersenyum membayangkannya. Dan masih, sedang menunggu seseorang yang mau observasi lagi. Gue mo nawari jadi nara sumbernya.. kalo boleh! Sekalian mo tanya nama, alamat, no handphone dan lain-lain yang dibutuhkan, gak musti buru-buru, just slow but sure…

Tapi ini sudah hari keenam. Setiap kali, meski ada waktu luang sedikit, gue nyempeti nongol ke ruang ekslabor, cuma hasilnya nihil.

“Don’t give up!..” Batin gue bersemangat

“Hendric?!” Gue gak tau kalo Nita ada ditempat yang gak jauh dari ruang ekslabor.

“Hai!!” Sapa gue rada malu-malu tak luput dari senyum yang gak jelas, gitu.

“Darimana?” Tanya Nita berbasa-basi

Tangan gue nunjuk keruang kosong itu, Nitapun mengangguk memaklumi meski belum jelas secara pasti. 

“So, apa yang lo lakuin ditempat itu?”

“Mencari inspirasi..” jawab gue seala kadarnya lalu tersenyum lagi.

Minimal Nita ngerti, kalo perasaan gue hari ini lagi bahagia banget.

“O key… pasti lagi sibuk banget?? Gue ama Radhit mo makan dikantin siang ini, mo gabung??” tawarnya membalas senyum.

“Sorry, gue sibuk banget…” simbat gue sok

Nita mencoba memahami dan pamit, gue yakin dia masih rada bingung dengan apa yang terjadi pada diri gue. Tapi dia lebih pandai baca pikiran seseorang, jadi, dia manusia paling sulit dibohongi.

***

Gue hendak melangkah menuju toilet, sialnya gue ngeliat sepasang remaja berseragam lagi asik bermesraan, awalnya gue mau mundur, tapi gak jadi. Karna salah satu dari mereka gue kenal… wow ini bukan tempat yang nyaman buat bercinta. Dimana aroma tak sedap bersumber dari tempat ini. Jadi, kalo mo diteruskan… apanya yang nikmat???

“Sorry, man! Gue mo lewat…”

Mereka mulai terhenti, pelan-pelan rangkulan itu terlepas. Mohad menatap mata gue secara sinis, ia tak bisa berbuat apa-apa. Kecuali bila mau jadi boomerang baginya, jika ia ingin menentang

“Lo, hendric kan?” ucapnya memastikan

“Kenapa? Bukannya kita udah kenal, my bro!”

“Yach, lo bakal nyesel karna tak mau mengikuti apa yang gue tawar. Lo anak baru yang bermasalah!”

“Bro,.. gue enggak takut…”

“Jangan pernah bangga dengan gift yang telah lo dapetin sekarang. Tentu lo bukan penguasa dunia”

“bahkan lo juga bukan! inget?? kita punya visi dan misi yang gak sejalan!!”

Mohad tak ingin berkelanjutan, ia menghindar perlahan demi sang pacar.

Tapi suatu kejutan yang tak pernah terbayangkan, bahwa ternyata gue mengenal gadis itu juga. Gue yakin wajahnya tak asing.. bahkan wajahnya sempat hadir dimimpi gue terakhir ini.

“Tunggu!” tahan gue

“Ada apa lagi?” tanya si Mohad rada kesel

“bukan Lo, Mohad. tapi pacar lo…”

Kini jelas di mata gue, tak salah lagi…pasti dia, yang gue gak tau namanya..

“Sejak kapan lo berhenti observasi?....”

Dear, rasanya ini bukan hari yang baik. Ingin gue akhiri perasaan benci ini, yang begitu menguasai. hingga tak terkendali. Tapi apakah gue patut???

***

Gue baru saja menemukan sosok malaikat yang mungkin bisa memusnahkan pikiran tentang alam semesta dan bisa  membawa gue terbang ke dunia yang berbeda. Gue terlanjur berharap yang mustahil, nyatanya belom sampe terbang dua meter, tapi udah jatuh lebih dulu. Gak terlalu sakit rasanya, hanya perasaan terkejut yang berlebihan gak bisa ditahan.

Tere, gue baru kenal namanya. Wajahnya masih saja terombang-ambing dalam gelombang hati yang belom pernah stabil semenjak mengenal keberadaannya

Apalagi yang mesti gue lakuin??? Gue ga pernah bilang kalo gue takut menentang kekuatannya Mohad, yang gue takuti sekarang.. yaitu gue gak bisa merebut dia dari tangannya. Kecuali jika, Mohad tak bisa memenuhi keinginan Tere, dan gue mampu!.. tentu dia akan mau berpaling dan bisa menatap siapa yang lebih baik?

“Tere hanya akan mempermainkan perasaan lo, asal lo tau!” tegas Nita saat gue minta pendapatnya. Radhit sepertinya hanya akan diam

“Tapi semua terserah lo!..”

Tak ada kata-kata lain yang mungkin bisa membuat gue percaya diri? Hanya itulah ungkapan terakhir yang berhubungan tentang Tere. Setelahnya, tak boleh dibahas lagi.

Mulai sekarang, gue merasa berdiri sendiri. Nita dengan Tere memang belum ketemu dan belum sama-sama kenal. Jadi mungkin wajar saja jika mereka berasumsi sikap dan sifat yang belum tentu diketahui masing-masing!

***

Bisa jadi bener kata Nita dan Radhit, sepertinya aura mental Mohad teramat kuat mempengaruhi orang-orang disekitar. Gue pun kadang berfikiran ia terlalu sempurna tuk dikagumi, bahkan gue sendiri ngerasa kurang percaya diri jika berhadapan dengannya.

“Hai!..” sapa suara asing bagi gue

Gue menoleh, dan kaget begitu melihat Tere berada dibalik tubuh gue. Seakan sengaja menghindari seseorang agar tak diketahui. Gue yakin pasti bersembunyi dari Mohad, kekasihnya.

“Kenapa?? Apa lo lagi ada masalah?”

“Mengapa lu berfikiran begitu?”

“Tere, lo musti tau. Mohad hanya mempermainkan perasaan lo. Lo terkesan padanya oleh karena pengaruh pellet  darinya.. lo kudu hati-hati berada didekatnya…”

“Mengapa lu peduli pada gua? Ada apa sebenarnya?”

“Tere, gue…gue … gue cuma khawatir pada lo..”

“Hanya itu?” bisiknya perlahan

Gila! Matanya mengoda gue, mati-matian gue ngerasa rugi kalo memalingkan mata ini. Akhirnya gue sambut tatapan itu. Dalam semakin dalam… sebelum..

“Sedang apa kalian?...” orang ini mengacaukan konsentrasi

Yup! Nita lagi-lagi datang tiba-tiba membuyarkan suasana yang lagi mesra-mesranya.

Tere semakin bersembunyi dibelakang punggung gue, ia menghindari tatapan Nita yang galak, penuh rasa kebencian terhadap dirinya. Gue udah ngerasa kalo kedua gadis ini tak akan bisa saling mengerti satu sama lain. Entah siapa yang mau mengalah, dan siapa yang akan mau mengerti?? Dan entah,,, sampai kapan hubungan ini akan berakhir???

Tidak ada komentar: