Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Story. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Januari 2012

Supranatural

Sebelumnya, mohad mengalami halnya serupa dengan kejadian gue waktu itu. Tak salah lagi, tingkahnya sama persis yang gue alami. Gue bisa ngebayangi betapa perihnya.. tapi aneh, siapa yang melakukan ini? Jelas, bukan gue!

Mohad terus mencengkram dada dibagian jantungnya, dan gue pun ikut menyentuhnya seraya mengendalikan kekuatan agar bisa mengurangi rasa sakitnya yang bergejolak. Ada perlawanan yang dashyat ketika itu, sesaat kemudian, kemampuan gue yang menang.

“Tere… cepat panggil ambulance!!!!” tereak gue terus merangkul Mohad yang masih menahan rasa sakitnya dan beberapa detik kemudian ia pingsan didekapan gue

Gue hanya bisa menatap, ketika tubuh Mohad dimasukkan ke mobil ambulance dan dibawa pergi bersama Tere yang setia menemaninya. Tanpa gue sadar, nyaris semua penghuni berseragam berhamburan di tempat kejadian. Mereka mencurigai gue sebagai pelakunya, bahkan Hernita dan Radhit yang melihat gue dari kejauhan, gak mau mendekat.
***
Gue sama Tere berjalan melewati koridor menuju ruang dimana tempat Mohad beristirahat. Ini hari pertama gue membesuknya, rasanya baru kemarin gue dan Mohad bertengkar karna masalah kecil. Tapi sekarang, percaya atau gak percaya, gue kemari atas permintaannya.

Beribu rasa bersalah ingin gue ungkapkan padanya, terutama karna gue sudah menuduhnya sebagai mediator Voodoo.

“Hend, apa lu gak ngerasa, kalo Nita menyukai lu!” ujar Tere sambil melangkah kecil menuju ke ruang Mohad berinap.

“Enggak!. Dia membenci gue…” sangkal gue berlaga males tuk ngebahas.

“Tapi gua perempuan. Gua bisa membaca matanya.. apa lu… emang  sengaja berpura-pura gak tau bahwa Nita selalu menatap gua dengan mata cemburu?”

“Tere, Gue hanya cinta pada lo! Lo puas.!!” Kata gue menegaskan.

Tere menggelengkan kepalanya. Bukan ingin mengalah, tapi ia sabar meladeni pembicaraan. Lalu ia menunjukkan sebuah ruangan yang masih cukup jauh dari jangkauan. Dan dipintu itu, baru saja nampak orang asing keluar dari kamar tersebut. Kontan Tere kaget, siapa gerangan yang berani masuk? dan berteriak tuk menyuruhnya diam ditempat.

Orang tersebut bukannya mau menurut, malah menghindar jauh. Gue sama Tere bergegas mengejarnya, namun gerak sang musuh jauh lebih gesit dan cekat, sampai kami kehilangan jejaknya. Hingga tak mungkin lagi terkejar!

Tere langsung melihat kondisi Mohad diruangan, dan kecurigaanya benar. Mohad semakin sekarat, selang infusnya terlepas, bahkan urat nadinya sengaja disilet, Mohad terlihat kejang-kejang, dan nyawanya… diambang kematian.

“Biar gue yang panggil Dokter, lo jaga Mohad disini!”

Tere manggut, seraya tak kuat menahan tangis dan rasa bersalahnya

***

Perasaan was-was masih menghantui, Jika terlambat dan tak bertindak cepat, mungkin nyawanya bisa saja hilang. Tapi keadaan Mohad sekarang sudah diyakinkan aman

“Seharusnya ia tidak ditinggal sendirian. Kemana keluarganya?” ujar Dokter kesal

“Keluarganya masih dikota, Dok! Kami belum berani menghubungi mereka”

“Hubungi mereka secepatnya, jika terjadi apa-apa, siapa yang mau tanggung jawab?”

Si Dokter bersama beberapa perawatnya pun pergi dari ruangan

“Bilang aja pengamanan dirumah sakit ini tak menjamin..” bisik gue kesal, jelas Tere bisa mendengar sindiran halus gue. “Ada benernya juga kata si Dokter, sebaiknya kita serahkan kondisinya yang sekarat ini pada orang tuanya. Minimal gue yang kepenjara…”

Tere hanya terdiam, sibuk melayani kekasihnya dan tak memperdulikan kekesalan gue.

“Bajingan! Siapa yang melakukannya?..” maki gue berang, mengingat gue tak begitu maksimal mengejarnya.

“Percuma disesalkan, yang penting keadaan Mohad terselamatkan..” ujar Tere lembut. Ia masih setia
membelai wajah Mohad, meski gue tau dibatinnya penuh rasa dendam yang sama.

***

Gue gak percaya segitu tegar dan kuatnya seorang Mohad, ia mampu mengatasi kondisi kritisnya dengan sendiri. Betapa gue tak tega memperhatikan keadaanya yang sekarang. Gue sangat menyesal telah beranggapan buruk tentangnya, karena sebenarnya ia bukan golongan kufron seperti yang Radhit dan Nita kira.

Ya! akhir-akhir ini sama sekali tak mendengar kabar dari mereka berdua. Setidaknya, Nita mengetahui kejadian sesungguhnya bahwa gue tak bersalah. Lantas, apa alasan mereka tak ingin bersama gue, atau minimal menghubungi gue sekali saja tak pernah?

Di lain kesempatan, gue berhasil menjumpai kedua sahabat itu di perpustakaan sekolah. Mereka selalu terlihat akrab, Tak heran! Mereka malah terkadang nampak romantis.

“Kalian tau kabar Mohad?”

Nita tak menanggapi ocehan gue, tapi Radhit tak begitu.

“Hendric, kami tak mau mencampuri urusannya Mohad. Maaf!”

“Radhit, gue butuh kalian, cuma kalian yang bisa? gue harap kalian tak terpengaruh dengan rumours tentang gue, Mereka sangat pandai menyebar fitnah?” sangkal gue “Dan Mohad tidak seperti yang kita pikirkan selama ini, ia juga manusia biasa yang hanya diperalat”

“Apa yang dikatakan Hendric benar!...” sambung Tere yang datang tiba-tiba “Tolong bantulah sahabat kalian, gua jaminannya bila kalian masih terus memaksa tuk membencinya. Bersamanya tak membuat gua berada diposisi yang salah.. Nita, gua mengharapkan bantuan lu. Lu pasti mengetahui siapa dalang dibalik ini?”

Tuk pertama kalinya gue melihat tatapan ramah yang nampak dimata Nita pada Tere, akankah mereka berbaikan? Tidak! Mereka tak pernah bermusuhan, gue malah merasa kalo selama ini  mereka hanya salah paham.

“Maaf, Tere… gue tetep gak bisa ngebantu lo!” dengan sangat menyesal, Nita berkata.

Dan iapun berlalu. Lagi-lagi Radhit membuntut mengejar Nita. Sungguh Tere kecewa mendengar jawaban itu, air matanya menetes kepipi.

Tiba saja gue teringat ketika gue nangis, Tere memeluk dengan erat. Rasanya tak adil jika gue membiarkannya sedih begitu saja. Kini giliran gue menunjukkan kepeduliannya.

“Kita pasti bisa… semangatlah…” ujar gue menghiburnya.

***

Nada dering itu terdengar keras, makin lama makin menyebalkan jika dibiarkan. Maka gue terbangun, dan baru sadar kalo barusan gue tertidur sejenak.

“Halo?!” kata gue setengah sadar

“Maaf mengganggu anda malam-malam begini. Tapi kami ingin mengabarkan hal yang penting yang patut anda ketahui…” jelas si suara asing ini.

Gue sih gak peduli, paling orang iseng yang gak punya kerjaan

“Anda mengenal wanita bernama Terresy anastasya?”

“Ya!..” jawab gue singkat

“Sekitar setengah jam yang lalu ia mengalami kecelakaan dijalan raya, dan sekarang kondisinya kritis. Kami dari pihak rumah sakit, mohon kedatangannya segera..”

“Baik, gue akan segera kesana.. dan tolong selamatkan dia, gue mohon” pinta gue panik

Kontan gue shock! Gila, sekarang jam satu pagi? Emang Tere abis dari mana? Ngapain jam segini keluar rumah, mana diluar masih gerimis. Padahal waktu gue belum tidur tadi hujan deres gak henti-hentinya.

Saat itu juga, gue langsung prepare seala kadarnya. Lagian mo kerumah sakit gak perlu nyetil, namanya juga lagi darurat..

Sejam kemudian,  gue sampai di rumah sakit yang sama ditempat Mohad dirawat, di kamar yang berbeda. Tidak ada yang menjenguk selain gue, atau mungkin yang dihubungi masih dijalan menuju kesini?

 Dan salah seorang suster yang menjaganya pun menyambut hangat kedatangan gue

“Gimana ceritanya, Sus? Siapa yang membawanya kesini?” Tanya gue gak sabar

Si suster menenangkan sikap panik gue “Yang membawanya kemari, sudah pulang .. kami pun tak mendapat informasi yang banyak tentang kronologisnya..” jawab si suster kalem.

gue liat kondisi Tere tak memiliki luka hebat. Hanya area tangan, kaki dan sekitar tubuh yang tak dilindungi kain tampak lecet atau beret seperti luka gesek, kepalanya tak mengapa, itu karena ia menggunakan helm. Gue rasa ia pengemudi motor yang disiplin.

“Dikepalanya mengalami benturan keras, sehingga ada pendarahan dari dalam. Dia harus segera di operasi, jika tidak, makin lama akan nampak benjolan yang semakin membesar..”

“Lakuin yang terbaik buat sahabat gue, Suster!”

“Kita belum langsung ambil tindakan, mungkin besok pagi.. setelah Dokternya tiba. Untuk sekarang, kami perlu penanggung jawab agar ia langsung dironsens secepatnya…”

 “Baiklah…!”

***

Sejak dini hari hingga pukul tujuh  pagi, satu persatu keluarga besar Tere berdatangan. Tak henti-hentinya mereka mengucap terima kasih karna gue sudah menjaganya. Parahnya, mereka pikir gue pacarnya yang bernama Mohad. Tapi tenang, gue udah klarifikasi.

Dan terakhir, yang bikin gue kaget adalah kedatangan Mohad. Padahal ia belum sembuh total, dan sepertinya ia memaksakan diri tuk membesuk kekasihnya.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Mohad terheran, entah siapa yang memberi taunya?

“Maaf, Mohad. Tak ada yang tau kronologinya, bahkan tak ada saksi yang melihat kejadiannya. Masalahnya semalem hujan deras, dan tak banyak kendaraan yang berlalu lalang ketika itu”

Mohad menyesali atas apa yang terjadi.

“Lo nggak papa, kan?” Tanya gue khawatir

“Hend, makasih telah menjaganya. Tapi bukankah lo musti sekolah?”

“Gue minta izin aja sama Pak Najmi..”

“Jangan Hend, sebaiknya lo manfaatin waktu lo buat istirahat aja, biar gue dan keluarganya yang menjaga secara bergantian…”

“Gue tau lo sendiri belom terlalu sehat.. sebaiknya lo yang perlu banyak istirahat”

“Udahlah.. kali ini gue mohon, gue udah banyak merepotkan lo”

“Baiklah,.. lo juga jaga kesehatan”

Gue pun pamit pada semua yang hadir, gue percaya Tere berada diposisi yang aman sekarang. Orang-orang yang mencintainya telah berkumpul memberinya spirit untuk terus berjuang mempertahankan kehidupannya.
Tak ada alasan baginya bila ingin pergi meninggalkan kami yang menyayanginya, lagian tenaganya masih kuat meski tak bisa menceritakan apa yang telah terjadi padanya, ia sempat merangkul tangan gue dengan maksud menahan agar tak pergi jauh darinya. ia terus-terusan nampak gelisah, mungkin menahan rasa menyut dikepalanya yang memang benjolannya semakin membesar. Semoga ia bisa bertahan hingga waktu operasi yang ditentukan. Hingga saat gue balik kesini, keadaannya semakin membaik.

***

Menjelang siang, perasaan gue gak enak. Apa ini efek tidak tidur semalaman atau karna emang bawaan gak nafsu makan barusan? Pokoknya ini terasa gak biasa. Mengapa demikian?

Firasat itu terjawab ketika gue dapet pesan singkat dari Mohad. Kabar yang tidak enak, gue mesti kehilangan seorang Tere untuk selamanya. Ia pergi beberapa saat setelah operasi selesai.

Sumpah, gue gak percaya mendengar kabar itu, rasanya ini seperti bohong besar. Baru beberapa jam lalu, Tere merangkul jemari gue dengan sepenuh kekuatannya. Dari situ, gue pikir ia tidak mungkin rela pergi meninggalkan gue. Ia wanita yang kuat, ia wanita yang berani, ia wanita yang tegar.. yang pernah gue temui selama ini. rasanya tak mungkin… ini seperti mimpi buruk bagi gue… gue mencintai lo Tere, gue mohon jangan pergi jauh..

***

Kepergian Tere menjadi duka yang mendalam bagi SMA kami. Semua berbela sungkawa selama beberapa hari belakangan ini. Mohad masih dirumah sakit, Nita dan Radhit masih belum berubah sikap, Mereka berdua masih tak ingin bicara dengan gue. Bahkan, tatapan siswa-siswi semakin sinis saja, mereka masih saja mengira gue sebagai penyebabnya. Apalagi Tere adalah orang yang teramat dekat dengan gue akhir-akhir ini.

Ini yang menyebabkan gue jadi pendiam, tak seorang pun berani menegur gue. Bahkan ketika gue berjalan melewati rombongan yang sedang berkumpul, tiba saja kontan mereka bubar. Tak heran mengapa mereka tega berbuat demikian. Karna image gue udah terlanjur buruk.. gue gak mungkin bisa mengklarifikasi atau membela diri sendiri, pasti akan sia-sia. Siapa lagi yang dapat dipercaya?

“Mohad? Lo udah sehat?...” gue keheranan memandang fisik Mohad

“Lo gak usah khawatir.. sebenarnya, ada yang ingin gue katakan. Ini lebih penting dari kesehatan gue..”

“Apa sebaiknya dilakukan nanti saja, ketika lo bener-bener pulih.”

“Gak Hend, jangan sia-siakan maksud kedatangan gue kesekolah ini..”

Mohad melangkah menuju ruang Osis ditemani gue, ia meminta gue tuk memasang speaker dan menyambungkannya ke mic, menyalakan soundsistem selayaknya mempersiapkan pidato upacara setiap hari senin. Entah rencana apa yang hendak dilakukannya kali itu?

Dengan kondisi yang masih belum stabil, ia bersiap diri berdiri diatas mimbar dan gue berada tak jauh darinya, berjaga-jaga jika Mohad membutuhkan hal lainnya

“Attentions..” katanya berlagak tegas

Semua perhatian tertuju padanya, bahkan pihak guru sekalipun menatap iba pada kesanggupan Mohan melakukan hal yang seharusnya tidak dilakukan.

“Terimakasih..” ujarnya seraya menundukkan kepala, mungkin ia sedang berfikir

Gue masih tampak bengong

“Yang ingin gue katakan sekarang, adalah kejadian yang pernah menimpa pada diri gue dan Tere akhir-akhir ini. Jelas semuanya berkaitan, pada saat gue diserang melalui media voodoo sampai kecelakaan yang terjadi pada Tere, kekasih gue.

Ada seseorang yang ingin benar-benar mencelakakan kami, mungkin karna dendam atau karena alasan lainnya. Dan efek serangan bertubi-tubi ini menjadikan sahabat gue, Hendric yang jadi kambing hitamnya.
Justru Hendric telah menyelamatkan nyawa gue tuk kedua kalinya dan ia juga yang menjaga almarhumah Tere menjelang kepergiannya.

Mulai sekarang, gue minta jangan ada yang memperlakukan Hendric dengan tidak adil. Ini tak ada sangkut paut dengannya…Sekali lagi gue tegaskan… Hendric tidak bersalah!!!”

“Apa yang lo lakuin?”

“Hendric, sadarlah! Kita berdua sedang diperhatikan musuh..” ujarnya mencurigakan
Itu artinya, disekolah ini memang tak semuanya bisa dipercaya.

Supranatural

Futural, ialah Hernita si peramal dan juga bisa baca pikiran seseorang. Desternal, Sesungguhnya Radhit dapat menerawang, Bahkan ia bisa menentang takdir seseorang. and I’m supranatural..si pengendali kekuatan.

Sebelumnya, gue memantau ruang ekslabor guna memastikan seberapa jauh perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini. Nyatanya memang tak ada lagi korban kerasukan, tapi ini bukan berarti aman! Sekolah ini musti dikontrol setiap kali, bahaya jika mahluk itu  kembali datang.

Siang ini tak ditemukan suatu tanda-tanda yang tertinggal. Tetapi seseorang yang hadir malah membuat gue merasa tak tenang. Percayakah jika si pemberani itu perempuan, dan bukan seorang Nita yang gue kenal.
Gue terenyah pada satu-satunya sofa yang ada diruang OSIS, spontan Nita dan Radhit menoleh ke arah gue. mereka masih memandangi gue dengan penuh rasa curiga. Kali ini, apa lagi maunya gue, pikir mereka.

“Soal Tere??” tebak Nita, jelas Nita pasti tau..

 “Apa bener, Mohad punya daya tarik yang luar biasa hingga membuat orang jadi pada mencintainya?? Apakah pellet itu punya kelemahan?”

“Aura seperti itu tak ada kelemahan, tapi yang ada pantangan!” Jelas Radhit.

“Apa-apa saja pantangannya?”

“Hend, syarat seperti itu tidak lazim diketahui. Dan orang yang bersangkutan mana mau membeberkannya secara gamblang..” tambah Radhit

“Kalo begitu, Nita pasti lebih tau…” tegas gue

“Tidak semuanya dapat gue ketahui dengan mudah!” Nada bicara Nita tidak biasa, sepertinya ia tersinggung.
Nita bangkit dari tempat duduknya, ia mengajak Radhit pergi. Dan pastinya Radhit memilih ikut, ketimbang meladeni gue yang tak berkesudahan.

 Namun, pada saat mereka hendak melangkah keluar. Tiba saja jantung gue mendadak terasa amat menyakitkan, gue meronta tak kuasa menahannya. Makin lama, makin terasa perih. Tak sadar lagi, posisi sudah terombang-ambing dilantai ruangan.

Gue udah berteriak minta tolong pada dua sahabat gue, tapi mereka menganggap ini hanya lelucon. Atau sebagian dari acting, karna mau gue tak terpenuhi. Lama-kelamaan, rasa ini tak membuat gue mampu bertahan hingga pingsan…

***

Siuman, entah berapa lama kemudian? Tau-tau gue sudah berada di kamar opname. Inipun tak merasa nyaman, sisa sakitnya masih ada. Aneh, baru kali ini parahnya. Padahal, gue tak mengidap penyakit apapun, bahkan dijantung!

“Apa yang lo rasain?” Tanya Radhit khawatir

“Dhit, gue berasa aneh?”

Sempat gue melirik kearah Nita yang berdiri rada jauh dari ranjang tidur gue, apa ia merasa bersalah hingga malu tuk mengungkapinya? Atau dia masih tersinggung dengan ucapan gue sebelum ini terjadi.

“Nita, gue minta maaf…”

“Tidak perlu!” jawabnya kasar “Sebaiknya lo jaga kesehatan, karna gue gak bisa lama-lama disini..”

“Kenapa?? Sepertinya lo marah besar..”

“Tidak ada kaitannya dengan masalah…”

Pembicaraanya terpotong, karna gue melihat sosok gadis yang baru gue kenal datang  mendekati dan memeluk tubuh gue secara tiba-tiba. Ini lebih berasa nyaman dari sebelumnya.

Rangkulan itu ia lepas dengan sendirinya dan ia mengucapkan rasa kekhawatirannya

“Lu gak pa-pa?”

Jujur gue merasa tak sabar ingin mengungkapkan betapa besar rasa sayang gue padanya jika begini terus keadaanya. Ia sanggup memberi gue kehangatan lebih dari yang gue dambakan. Gue tak mau kehilangan Tere, seperti dulu gue sempat mencari keberadaanya. Dan senyumnya kali itu, membuat perasaan gue bagai tak mengalami derita.

“Tere… sebenarnya.. gue….gue…” kata gue berbata. Menahan rasa sakit demi mengungkapkan kabar yang membahagiakan.

Tere menunggu ucapan gue selanjutnya, namun Nita keburu membuyarkan konsentrasi gue. Ia tak kalah jenuh dari sebelumnya, mungkin suasananya berubah tak nyaman atau apalah hingga ia ingin rasanya cepat-cepat keluar ruangan dan menghirup udara bebas, lepas dari pengap. Tak ketinggalan, Radhit pamit setelahnya.

***

Kondisi masih belum pulih, anehnya hasil ronsen menunjukkan tak ada penyakit parah di organ tubuh gue, semuanya beraktifitas normal, termasuk area jantung yang tadinya terasa amat sakit. Saat ini Radhit menemani gue cek out dari rumah sakit, dan begitu nyampe dikamar pribadi, disambut hangat keluarga. Spirit gue bangkit lagi.

“Radhit, gimana kabar lo sama Nita?” tutur gue lembut.

“Hmm.. begini…” Radhit terlalu plin-plan tuk menjelaskannya.

Gue paham, mungkin mereka belom jadian sampai sekarang, atau Radhit masih menunggu jawaban. Lebih baik ngebahas soal yang lain saja, mungkin bisa kerasa lebih nyaman.

“Nita masih membenci gue?”

“Oh, bukan.! Saat ini dia lagi bermasalah... tak ingin diganggu” ujarnya ngeles

Selang berapa lama, pintu kamar terketuk dan Tere yang masuk.

“Hend, gua tau kejadian yang lu alami kemaren. Ciri-cirinya sama persis seperti buku yang pernah gua baca sebelumnya. ketika yang terasa sakit hanya sebagian yang ditentukan saja.”

Gue sama Radhit hanya bisa bengong mendengar penjelasannya

“Ia menggunakan boneka dan jarum sebagai medianya untuk melukai dan membuat lu agar pelan-pelan merasakan derita yang membara hingga menjemput kematian. Ini yang biasa disebut Voodoo. Ini tabu. Masalahnya, kita gak tau siapa yang melakukannya?”

“Lo yakin?...” gue bimbang dan gue mengusap wajah dengan kedua tangan “Mungkinkah, Mohad yang ingin mencelakakan gue????”

***

Ternyata Mohad merasa tak puas dengan keberadaan gue sebagai pahlawan sekolah, bukan gue yang pengen narsis, tapi julukan itu sudah terlanjur menyebar. Entah siapa yang memulai? bahkan Tere memutuskan hubungannya demi membela gue, dan ini yang bikin rasa berangnya memuncak. Ia menggunakan Voodoo sebagai media pembasmi gue, namun gagal.

Tere bisa mengira bakal begini jadinya. Ia mau bertanggung jawab atas segalanya. Kebetulan keadaan gue udah baikan seutuhnya.. gue dan Tere siap tempur ke markas tuk membela kebenaran.. dan gue menemukan Mohad dengan rombongannya di area kantin sekolah.

Jelas saja Mohad terkejut melihat gue nyaris tak memiliki bekas luka.

“Wow,.. lo putus dengan gue. demi dia, kan?” umpatnya

Gue sama Tere saling bertatapan heran. Apalagi maunya dia?

“Mohad, apa maksud lo mencelakakan gue lewat guna-guna?”

“Apa maksud lo, Hend? Lo bener-bener mo jadi pahlawan disini dengan menuduh gue sebagai musuhnya?... Begitu?”

“Pengecut!... Pecundang!..” maki Tere memanas.

“Plaaaakk!!..” didepan mata gue, Mohad menampar wajah Tere begitu kasar.

“Terserah lo mo bilang apa?” katanya sok “Tapi, bukannya lo yang disebut pecundang!”

Begitu mendengar Tere diremehkan dan ditindas semena-mena, membuat gue bertindak cepat memukulnya. Sebuah bogem mentah mendarat mulus dipipinya. Gue puas membalas hinaan itu, meski kelompoknya baru berusaha ikut-ikutan menyerang. Namun gue gak takut, walau mereka ada seribu manusia sekalipun..
Perbuatan ini mengundang perhatian hingga mendatangkan beberapa guru tuk melerai perkelahian itu, gue cuma bisa diam karna pastinya gue yang disalahkan..

Tapi tiba-tiba sesuatu yang tak nampak menabrak gue, kekuatan yang membentur ini selayak dinding dan tak bisa ditahan oleh tubuh hingga terpental beberapa meter kebelakang. Jelas, menurut pandangan normal, seakan mustahil tapi nyata. Semua yang menyaksikan sampai bengong. Ada apa sebenarnya? Ini tampak seperti perang mental

Gue bangkit setelahnya, hendak membalas serangannya. Tapi terjadi hal yang tak terduga. Mohad tiba saja berteriak kesakitan seraya meronta kesana-kemari. Padahal gue belum mengendalikan kekuatan apapun? Kenapa bisa begitu??

Kejadian ini seakan sama halnya seperti kejadian gue waktu itu. Tak salah lagi, tingkah itu sama persis yang gue alami. Gue bisa ngebayangi betapa perihnya.. tapi anehnya, siapa yang melakukan ini? Jelas, bukan gue!
Teriakan Mohad semakin keras. Sahabatnya, bahkan sama sekali tak tau mesti ngapain, melihatnya dalam keadaan begitu membuat merekapun mati rasa. Atau mungkin mereka sempat berfikiran ini pasti ulah gue! Dan gue bergegas memeluk tubuhnya, berusaha menyelamatkannya.

Mohad terus mencengkram dada dibagian jantungnya, dan gue pun ikut menyentuhnya seraya mengendalikan kekuatan agar bisa mengurangi rasa sakitnya yang bergejolak. Ada perlawanan yang dashyat ketika itu, sesaat kemudian, kemampuan gue yang menang.

“Tere… cepat panggil ambulance!!!!” tereak gue terus merangkul Mohad yang masih menahan rasa sakitnya dan beberapa detik kemudian ia pingsan didekapan gue.

***

 Gue hanya bisa menatap, ketika tubuh Mohad dimasukkan ke mobil ambulance dan dibawa pergi bersama Tere yang setia menemaninya. Tanpa gue sadar, nyaris semua penghuni berseragam berhamburan di tempat kejadian. Mereka mencurigai gue sebagai pelakunya, bahkan Hernita dan Radhit yang melihat gue dari kejauhan gak mau mendekat.

“Hendric!...” Panggil seorang pria setengah baya. Gak heran jika kepala sekolah turun tangan dengan masalah ini. “Ikut bapak ke kantor sekarang…”

Ini akan jadi issue yang menggemparkan nama sekolah, bahwa ada anak manusia punya berkekuatan super.. apa nantinya kata mereka terhadap gue?

Diruang yang penuh benda-benda sejarah sekolah ini, gue masih berdiri menunggu detik-detik keputusan apa yang akan gue terima nanti. Sambil menunduk pasrah..

“Awalnya, bapak kagum dengan kamu.. yang katanya pernah mengusir makhluk jahat penghuni sekolah ini. Bapak pernah tau bahwa tak mudah seseorang dapat melakukan itu, bahkan seorang berilmu tinggi sekalipun yang bapak undang tak dapat menakhlukannya.

Tapi bukan berarti bapak mengizinkan kamu menggunakan sihir pada temanmu sendiri. Mereka tak sebanding denganmu.. seharusnya kamu tau..”

“Tapi sebenarnya ini bukan sihir, ini juga bukan saya pelakunya, Pak! Tentu saya hanya manusia biasa yang tidak punya kekuatan sama sekali. Yang saya miliki adalah kekuatan perlindungan diri, tidak untuk mencelakakan seseorang yang bapak maksud. Apalagi mencelakakan Mohad, justru dialah yang menyebabkan ini terjadi..”

“Hendric, menurut data.. kamu belum satu bulan tinggal disekolah ini, tapi laporan yang bapak terima banyak sekali kejadian aneh akhir-akhir ini. Tentu bapak lebih mengenal siapa Mohad, ia bukan orang yang membuat kerusuhan apa-apa. Asal kamu tau, ia siswa andalan sekolah ini karna kecerdasannya
Kamu lihat tropi yang ada di etalase disamping kamu berdiri.. semua berkat dedikasinya terhadap sekolah. Ia sudah dikenal dengan prestasi, padahal ia baru beberapa bulan tinggal disini. Dan bukannya bapak ingin membela siapapun atau bapak ingin menantang kekuatan yang kamu miliki… bapak tidak punya itu, Hend. Tapi bapak tidak takut apapun, bapak hanya minta control emosi kamu. Ingat, kamu sebenarnya istimewah tapi kendalikanlah keistimewaanmu untuk sesuatu yang benar…”

Dan gue terus terpaksa mendengar ocehan orang tua itu. Rasanya, percuma gue membela diri. Sepertinya si tua bangka ini pun sudah terpengaruh sama pelletnya Mohad.

Kejadian itu jadi pelajaran berarti bagi gue, meski gue keukeuh pada pendirian gue tanpa harus mempengaruhi yang lain. Dan gue sadar, awalnya gue sendiri disini, tak kenal siapapun. Seharusnya gue mesti begitu, selamanya begitu..

“Sekarang,.. tolong kamu tanda tangani surat ini..”

***

Gue gak sempet baca ataupun nanya surat apa gerangan? Yang penting gue bisa lari dari tempat yang pengap itu, sama akal bulusnya yang masih percaya dan mempertahankan anak didiknya.

Gue benci semuanya, mengapa semua gak ada yang percaya pada gue? Mengapa harus gue yang disalahkan? Apa karna apa???.. gue tidak ingin benci pada mereka, tapi sebenarnya gue benci pada diri gue sendiri … dan gue mau mencari ruang yang aman buat gue sendirian, sebuah tempat rahasia yang kini gue rasa bahwa inilah rumah gue. Diruang ekslabor, gue termenung sendiri sampai akhirnya menangis. Gue cuma ingin nangis, hanya itu..

“Hendric…” terdengar suara lembut menyapa gue

Yang tadinya kepala gue tertunduk perlahan-lahan menoleh kewajah perempuan itu.

“Tere..” balas gue. Sialnya, dia liat gue nangis. Seorang cowok nangis, apa yang ada dipikirannya? Padahal gue bukan tipe cowok cengeng. “Gimana kabar Mohad?”

“Dia gak papa! Dia sempat mengucapkan terima kasih pada lu,  karna telah menyelamatkan nya dari maut.”

“Syukurlah..”

“Lu kenapa?” Tanya Tere. Tanpa kata-kata lagi ia kemudian memeluk tubuh gue, membuat gue merasa lebih lega. “Gua bisa merasakan betapa berat beban yang lu pikul, sebaiknya lu diam saja, semoga ini bisa membuat lu jauh lebih tenang”

“Tere, sebenarnya.. gue bisa lebih nyaman. Jika lo jadi pacar gue, gue butuh perlindungan dari lo. Cuma lo yang bisa memberikan kehangatan ini..”

“Maaf, Hend. Gua lebih mencintai Mohad..”

Mendengar itu, gue menyingkirkan tubuhnya dari tubuh gue, rasa tak percaya itu datang lagi. Sembari menatap matanya dengan jawaban yang tak yakin.

“Tere, lo musti sadar kalo lo kena pengaruh peletnya..”

“Enggak, Hend. Gua mencintainya tulus.. bukan karna itu”

“Apa yang membuat lo yakin?”

“Karna…karna.. gua punya ini.” Ia menunjukkan sebuah kalung bermata indah, dan gue masih gak ngerti apa maksudnya?

“Ini adalah kalung keberuntungan pemberian kakak gua, untuk menyangkal kekuatan jahat yang akan melukai gua. Kalung ini sangat berguna, selagi tak bercahaya, artinya gua dalam keadaan aman-aman saja, dan selama bersama Mohad, kalung ini tak berpengaruh apapun. Artinya memang tak ada niat jahat dihati Mohad…”

DAMN IT!!!.. gue konsisten pada pemikiran awal gue tadi. Gue mau hadapi semua ini dengan sendiri saja, tanpa siapapun!!!!!!.............