Ini hari sabtu, Dengan seragam sekolah yang sudah siap melekat di badan.
Rakha berniat berangkat menuju suatu tempat yang menyebalkan.
Bangunannya, sekolahnya, kelasnya, situasinya, bahkan orang-orang di
sekitarnya, semua menjengkelkan!
Rakha gak perlu jaim, emang udah kebiasan nya kalo pergi gak pamit.
Keluarga Rakha pasti ngira kalo dia udah jelas ke sekolah, gak usah
ditanya! Dan siangnya, ketika balik ke rumah ini lagi, masih dengan
tampang yang gak berubah. Semberawut! Tapi mereka gak pernah komplaint,
karna mereka adalah orang pertama yang merasakan perubahan Rakha,
tentunya. Semenjak cita-citanya pengen masuk ke sekolah perhotelan gak
di wujud in gara-gara masalah biaya. Padahal targetnya, pengen magang
ampe ke luar negeri.
Rakha berangkat ke tempat semacam neraka, hanya bermodal buku bigbos dua
biji, ama pulpen. Jangan salah, Bigbos itu baginya amat berharga, yang
jelas bukan hasil keringet orang tua, itu hadiah dari Guru SMP nya karna
NEM mata pelajarannya nyampe target. Ia dapet setengah lusin per Guru,
totalnya ada 24 biji. Entar, kapan kapan kalo butuh baru yang laen boleh
dipake. Selama ini, Rakha gak pernah bawa tas. Tadinya dia malu, karna
bonyoknya gak mampu beli. Tapi nyatanya, modal segini malah jadi
trendcetter anak jaman sekarang. Semuanya pengen jadi Mr. Simple.
Baju dengan celana bekas ini jangan ditanya, tadinya milik Kim -kakak
Rakha- sekarang diwarisin ke adeknya. Pesennya, ‘moga pinter dan srius
belajar’ tapi tak ada yang bisa dia lakukan, pengangguran! Kerjaannya
ngumpul bareng temen temennya yang gak jelas, pulang larut malem atow
jelang subuh. Pagi nya terlentang kayak orang mati. Padahal dulunya
sekolah di STM ternama. Sayang, niat usahanya gak ada!
Seperti biasa, Rakha nongol ke sekolah sekedar melepas rasa boring
dirumah. Sebenarnya, di kelas ini juga ia gak dapetin jawabannya dari
keinginan nya. Masih saja jenuh berkepanjangan. Suara bising, keramaian,
teriakan bahkan tawa lepas mereka bukanlah obat yang dapat menenangkan
kegalauan nya. Rasa sakit yang dia derita ini, entah apalah namanya?
Humanfobia? Revetahw!. Wonk Ot Tnaw T’nseod S’eh
Saat Rakha melintasi selasar, ia merasakan rutinitas keanehan yang
menggebu. Seperti bisik bisik gak jelas, tatapan aneh, serta bertingkah
laku gak wajar. Kayak ketawa terpaksa, sok gak ngliat dia lewat,
menyibukan diri sendiri. Rakha gak perlu menanggapi mereka, itu sudah
jadi makanan setiap harinya. Siapa yang gak kesel coba? Sikap kayak
gitu, anak cowok juga ikut campur. Gak ada kerjaan yang lebih penting,
daripada bergosip. Wajar kalo Bu Aidah pernah ngeluh, mulut perempuannya
satu kayak duabelas. Tapi mulut lelakinya satu kayak duapuluh…
Tak wajar tapi tak heran, mengapa mereka menciptakan semacam komunitas
yang suka menyindir dari belakang? Itu alesannya karna mereka iri,
seperti statement Rakha sebelumnya kalo penduduk sini rata-rata
kebanyakan punya kulit rada item, jadi mereka gak biasa liat cowok
berkulit putih, kayak artis. Awas, yang ini belum Rakha poles. Sekali
Rakha coba treatment entar, Lo bakal ngerasa in ketemu artis tiap hari.
Ini masih pagi, mengapa mereka selalu ingin bikin suasana hati Rakha gak
nyaman? Dia mempercepat langkah. Bergegas menghindar dengan segera.
Namun, ketika mo masuk lewat pintu ke.. la.. “GUBRAK!” pintu kelas,
maksudnya. Rakha bertabrakan, bukunya terlepas dari genggaman.
Mata tajam nya memandang lurus kedepan, giginya geratakan. Ni orang,
nambah kesel aja! Cowok yang menabraknya gak berani natap, langsung
mungut buku yang terkapar. Ya iyalah, Biant masih menghargai siapa saja
yang menurutnya senior. Ia gak berani macem-macem. Waktu Biant ingin
mengembalikan buku itu, Rakha merampasnya dengan kasar. Sempat terdengar
kata maaf dari mulut Biant, tapi percuma. Rakha udah ngeloyor ke
bangkunya.
Ada lagi yang mo bikin temperature darah Rakha naik. Tasya! Cewek yang
lebih mungil dari Rakha, tersenyum sumringah mencoba menghibur, tapi dia
salah. Rakha tak butuh di hibur, karna dia tidak sedang bersedih!
“Gimana kabarnya?” Tanya nya ramah.
“Gak penting!” jawab Rakha jutex.
Tasya agak tersinggung, namun ia belom bisa dibilang nyerah. “Gue mo nagih bayaran kas, tinggal lo doang belom bayar..”
Mendengar soal money,.. Rakha kontan narik nafas dalam-dalam. Dan
mencoba sedikit tenang “Gue gak bawa duit! napa gak ngomong dari
kemaren?” cetusnya gak kalah.
“Finalnya hari ini, lo gak punya cara selaen minjem!” tuntut Tasya
serius. “Kemaren udah gue coba mo ngomong, tapi sikap lo bikin orang
takut! Bisa gak sih, elo sedikit sopan? Kita disini perlu solidaritas,
bukan mo hidup masing-masing.. seandainya lo mati? Siapa yang mo ngubur
lo?!” bicara dan mata Tasya seolah ingin menentang.
“Udah?!” Balas Rakha ketus. “Lo selesai ceramahnya?!” beberapa detik
mereka terdiam, saling menatap kosong pandangan, tanpa berkedip. Wajah
keduanya teramat dekat, bisa saja Rakha langsung menciumnya supaya dia
diem. Dan masalah selesai! Tapi tak segampang itu. Yah, pasti ada
alternative laen.
“Kasih gue waktu lima menit!” dan spontan, Rakha meninggalkannya.
Berjalan dengan langkah yang terburu-buru menuju ke suatu tempat. Tasya
memandangi punggung nya yang perlahan menghilang dari pandangan.
Taukah Rakha? Saat jarak sedekat itu, Tasya menahan nafas. Ia tak kuasa
menahan godaan di hadapan cowok innocent itu, matanya sangat tajam,
bibirnya tipis dan mengkilap, hidungnya dambaan setiap insan, dan yang
paling parah lagi.. meski Rakha terlahir sebagai cowok tulen, namun bulu
matanya lentik bak mata perempuan. Tidak semua cewek memiliki
kelebihannya, ia teramat sempurna. Tepat di depan nya, Tasya merasa
kurang, sebagai seorang wanita se utuhnya.
Tiba saja Tasya menangis, dan untungnya dikelas tidak ada siapa-siapa.
Jadi ia lebih leluasa melampiaskan emosinya. “Gue suka ama lo, Rakha..”
tuturnya pelan menahan isak “Kapan lo akan menyadari itu?...”
Beberapa menit kemudian, Rakha datang menghampiri Tasya dengan suasana hati rada stabil.
“INI!..” Rakha mengulurkan tangannya yang sudah memegang uang.
Walaw tadi Tasya sempat menangis, tapi air mata itu sudah terhapuskan.
Si bendahara kelas ini menerimanya dengan pelan, tanpa saling
berpandangan. Tasya gak mungkin mempertanyakan dari mana asal uang itu,
kalo masih ingin persahabatan ini berjalan normal.
Rakha pun berpaling, dan berjalan mengarah kembali ke bangkunya.
Sayangnya, Tasya tak sempat mengatakan ‘Maaf’ ataupun ‘Terima kasih’
benar-benar tak punya waktu sedikitpun. Tasya merasa geram pada diri
sendiri. Sesekali ia mencuri pandangannya, berharap ada ekspresi yang
menunjukkan kalo perasaan Rakha baik baik saja.
Rakha sendiri masih bersikap tenang, seolah barusan tak terjadi apa apa.
Ia membuka jadwal jam pertama yang belum sempat di hapal nya. Sejarah!
Pasti membosankan! Ia pun menerawang ke luar ruangan melalui kaca
jendela transparan. Berharap tak hujan, karna sore ini dia bakal kerja
dihari perdana nya, semoga lancar…
***
Sore yang melelahkan, pengalaman yang luar biasa. Meski agak linglung di
hari pertama nya bekerja. Tapi semangatnya tak jua pupus. Rakha mulai
merasakan lelah nya melakukan kerjaan yang belum biasa. Ia harus
memasang tenda, menata kursi dan meja, menyiapkan berbagai hal, sampai
menarik gerobak butut yang sudah berpengalaman jualan selama lebih dari
sepuluh tahun.
Promosi dikit, menu favorite di tempat ini ialah nasi, mie, kwetiaw
serta makanan seafood lainnya. Ownernya yang jadi chef sendiri,
karyawannya ada tiga, Rizky cook helper, Joe waiter, Wahid bar atau
juicer, dan Rakha sementara ini general helper. kebersihan dan pelayanan
paling diutamakan. Sebelum memulai, mereka sempet briefing beberapa
menit. Sialnya, Rakha musti dipaksa ramah kalo mau serius kerja. Gak
banget!.. Rakha sempet ngakunya gak pe de ngeliat senyum di raut muka
nya yang gak pantes itu di cermin. Sepertinya, Rakha lebih gantengan
manyun.. tetep imut!
Jadi, selama jam kerja berlangsung. Ramenya bukan kepalang, tadinya
Rakha Cuma ditugaskan Bantu-bantu, nyatanya malah lebih dari itu,
dikit-dikit manggil Rakha, bentar-bentar manggil Rakha, gimana muka ini
mau senyum kalo moody nya dipermainin kayak gitu. Mulai dari ngelayanin
maunya customers, kena complaint ampe salah order. Belom lagi, di balik
layar.. di backstage pas lagi nyuci piring ama gelas, atau yang biasa di
sebut nge DJ. Property banyak yang pecah. Maklum lah, ini kan malem
week end… stress dah, ampuuun,.. terserah kalo Rakha dipecat malem ini
juga. Yang penting jangan disuruh ganti! Titik!
Malam kian larut, stock makanan utama udah abis total, tamu masih aja
berguyur keluar masuk. Mumpung lagi sepi, Rakha akhirnya kena sanksi.
Kak Joe sempet ngerasa kasian gitu, dan menasehati Rakha dengan sabar.
“Beginilah yang namanya kerja, segalanya tuntutan. Lo mesti siap lahir batin kalo mo terus berjuang.” Jelas Joe santai.
“Trus, kerjaan gue berakhir sampe sini?” Rakha pesimis.
Joe menghela nafas, “Lo masih punya kesempatan, ka! Jangan lo sia sia
in, tunjukin yang terbaik.. kesalahan hari ini, kalo bisa jadi pelajaran
lo sendiri. Jangan lupa saran gue, cekatan, disiplin, inisiatif,
kreatif, aktif, lo bakal pelajari semuanya secara otodidaks. Percaya
kata gue ka, asal lo punya kemauan dan motivasi yang besar.”
Rakha menyelesaikan semuanya dengan sedikit kacau. Ia berjalan gontai
menuju rumah berukuran 5x8m, sebuah gubuk yang tertanam di antara
rawa-rawa. sementara pikirannya melantur, ia punya cita-cita ingin masuk
perhotelan. Tapi yang begini saja ia tidak sanggup. Tidak, ini
pengalaman baru menurutnya, ia butuh adaptasi. Pokoknya harus bisa!
Besok malam kudu lebih baik dari sekarang, minimal berdoa agar hujan,
biasanya pelanggan pada sepi. Konsetrasi dulu, besok keputusan akhirnya.
Rakha menggedor pelan, tak lama kemudian sosok wanita paruh baya
membukakan pintunya, penampilannya rada acakan tapi langsung tersenyum
begitu menanti kehadiran anak tercintanya. Rakha menyadari kalau ibunya
tertidur di sofa karna menunggunya. Padahal, dirumah ini ada dua kamar.
Satu dikamar Ayuk Sintya bersama adek Alea, dan seharusnya Ibu tidur di
kamar satunya dengan Ayah. Sementara, di ruang tivi sudah ada matras,
tempat tidur Rakha dan Kim, kakaknya. Sayangnya, Kim malam ini lebih
parah, ia tidak pulang. Jadi Rakha tidur sendirian. Tak perlu menunggu
waktu lama lagi, matanya tiba saja mendadak terpejam.
***
“Kamu pulang jam berapa semalem?” Tanya Ayuk Sintya, sewaktu Rakha lagi
nyiapin sarapannya. Rakha gak komentar sama sekali. “Kata Ibu, kamu gak
langsung pulang dari sekolah, kemana?” Tanya nya lagi. Rakha berpura
pura budeg.
“Rakha, bagi Ayuk.. kamu udah dewasa. Bisa menilai pergaulan mana yang
baik dan yang salah. Perlakuan Kim jangan ditiru. Apalagi Ayuk khawatir
kalo kamu ikut terjerumus dengan hal hal yang terlarang.”
“Ayuk gak usah mikirin Rakha, biar Ayuk gak peringatin juga.. Rakha udah
tau! Rakha mau memulai hidup dengan cara Rakha sendiri. Ayuk gak usah
peduli! Nanti juga Ayuk akan tau sendiri,.. kemana sekarang Rakha hendak
melangkah…” penggal Rakha sedikit emosi, ia menghentikan sarapannya dan
masuk ke kamar Ayah.
Ayuk Sintya adalah anak sulung keluarga sederhana itu, ia juga punya
tanggung jawab penuh atas perlindungan ekonomi mereka. Usianya berkisar
dua2 tahun. Planingnya, ditaon ini juga ia akan menikah, jadi wajar
ketika ia khawatir melepas keluarga yang masih perlu di tata ini. Ia
berharap, satu-satunya andalan hanya Rakha seorang. Hanya perlu sedikit
dibimbing agar ia tidak melakukan kesalahan yang fatal.
Di kamar, walau cara bicara nya terlampau kasar, sejujurnya Rakha merasa
amat menyesal telah membentak kakak perempuannya… bagaimana caranya ia
ingin sekedar bicara maaf, tak mudah melakukannya bagi seorang Rakha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar