Hari berikutnya. Mata pelajaran ke empat yang berkesan membosankan baru
saja usai. Sekarang waktunya maen lagi ke kelas IPA, Rakha berniat
menagih janji sama Kak Joe yang mau mengajaknya kerja sampingan. Namun,
di selasar depan pintu kelas IPA sudah nampak Vidya cengengesan dari
kejauhan sambil berkutat dengan handphone nya, Rakha buru-buru
mendekat. Mencari tau sebenarnya.
“Kenapa, sih? Udah gak waras, Ya?!” tebak Rakha sok tau
Awalnya, Rakha dicuekin. Trus Vidya balik nanya “Kamu punya FB?”
“Boro-boro, nomer hape aja kagak punya.!” Rakha rada memelas “Eh,
ngapain rambutnya di kuncir? Jelek, tau!” canda Rakha mengalihkan topic.
Sambil berusaha melepas ikat kuncir dirambutnya Vidya. Dan Vidya sempet
berontak, namun gagal.
“Panaaaas, Rakhaaa..!” rengek Vidya
“Tuh,kan. Cantikan gini. Gue lebih suka liat cewek dengan rambut terurai”
Vidya langsung nurut dan gak bisa komentar lagi. Sesaat ia menikmati isi Hapenya lagi.
“Kamu tau, julukan keripik jengkol itu sedang heboh di FB. Judulnya ‘Si
keripik jengkol punya selera’ yang ngelike banyak, yang komentar pada
gila-gilaan…”
“Apa hubungannya sama gue?!”
“Mereka mikirnya kita jadian, Bego!” Vidya lalu pura-pura menjitak
kepala Rakha supaya agak sedikit dibilang romantis. “Nih, beberapa
komentar nya, Ayuk baca in! ‘rupanya, pelet si Hitam ampuh juga, ya? Guw
mo tanya rahasianya’ adalagi ‘gila, si Hitam gak mikir cowok yang lama,
kali. Semenjak ketemu brondong..’” setelah membaca itu, Vidya malah
ketawa nyindir.
“Ayuk gak marah?” Tanya Rakha tanpa ekspresi. “Kak Joe tau?”
Tawa Vidya terhenti sesaat “Ngapain, marah? Gak ada ngaruh sama sekali,
Kak Joe tau juga gak bakal di gubris” ujarnya enteng. “Kamu sendiri, gak
mo kasih koment?”
“Yang dibilang keripik jengkol itu, bisa jadi bukan gue. Ngapain cari gara-gara?” Rakha gak kalah cuek.
“Tapi bener? Kamu gak pernah deket ama seseorang, selain Ayuk? Ayuk denger, begitu!”
Rakha tak menjawab, itu tidak penting menurutnya. Dengan berdalih
menggaruk rambut nya yang bergelombang dan memandang sinar mentari yang
mulai terang. Vidya memandangnya seakan anak kecil yang lagi ngambeg an.
“Masuk kelas aja, yuuk! Panaas!”
Tapi Rakha punya ide lain. “Rakha balik ke kelas aja, ada pe er yang belom kelar.”
“Ya udah,” tiba saja, situasi kerasa gak enak
Rakha sudah mo berbalik, namun tiba saja Vidya memanggilnya kembali
“Oh, iya. Pesen Kak Joe, kamu mulai kerja hari sabtu sore balik sekolah bareng dia”
Rakha mengangguk “Sampaikan, Rakha pasti ikut, thankz..” sambil tersenyum
***
Rakha terhuyung di bangku tempatnya bernaung mencari ilmu. Sebenarnya,
Tempat duduk dan meja ini hanya tameng bagi dia. Ia sampe berada di sini
karna permintaan dan perjuangan nyokapnya, kalo menurut bokapnya… Rakha
lebih pantes cari duit saja, Bantu-bantu keluarga. Sempet terfikir di
benak Rakha, kata Ayah mungkin benar…
Tiba saja, terdengar nyaring bel tanda masuk. Memecahkan lamunan Rakha.
Beberapa murid secara bergilir, mulai berbaris menuju kandang
masing-masing. Entah kenapa, dalam keadaan ramai seperti inipun, kadang
Rakha masih merasa kesepian?
Entah bagaimana lagi caranya agar Ia bisa nerima kenyataan yang jauh
dari bayang-bayang impiannya? Sesuatu yang pernah Ia raih, berujung ke
sia-sia an. Efeknya, Ia mati rasa! Yang mengatakan Rakha seorang yang
berprestasi, itu hanya cerita lama.
Jelas, Rakha hanya anak remaja yang kehilangan arah mata angin. Ia
secara tak sadar telah kehilangan konsentrasi, sampai akhirnya tersesat!
Rakha tak tau lagi jalan pulang, dan juga tak bisa lagi berjalan lebih
jauh, meski matahari masih mampu bersinar dan menunjukkan ke arah yang
sebenarnya harus ia lewati.
Jujur, Ia mulai kerasa lelah tuk berjuang, spiritnya ilang! bagai
manusia yang jauh dari kontak sosial, dan sekarang, langit kian terasa
gelap… ia sama sekali masih belum tergerak.
Sebuah bangunan tua yang terisolir, jauh dari pusat kota, statusnya
masih dipertanyakan, dan mayoritas siswa yang belajar disana ialah
penduduk setempat, jauh dari istilah kata elite, rata-rata pejalan kaki
yang benar-benar merasakan bahaya perjuangan menantang panas dan hujan
menuju meja belajar. Bahkan ada yang menempuh jaraknya hingga nyaris
satu kilometeran perhari, bolak-balik!
Hati Rakha gak sepenuhnya ikhlas, ia merasa teramat sulit beradaptasi.
Rakha orang yang sempet berfikiran bakal jadi apa kelak, ketika lulus
dari sini? Walaw berprestasi sekalipun, apa ada majunya? Berkas
lamaranny otomatis menyantum kan sebuah nama sekolah yang dianggap orang
tak pernah ada. Bahkan NEMnya gak bakal berarti ketika ia mencoba uji
kemampuan dalam hal menyelesaikan soal essay dari perusahaan atau
jenjang pendidikan berikutnya. Yang kuliahan aja, masih ada penganguran?
Apalagi gue ini? Paling jadi pegawai bangunan!
Sekolah hanya formalitas, beruntung bagi orang-orang yang pernah sekolah
dengan nama yang tak asing di dengar. Sebagian itu adalah nilai plus
menuju masa depan. Dan kini, sampai tiga taon mendatang, hidup gue cuma
ngejalani kenyataan yang sekarang. Meski pahit, waktu terus berjalan.
Hari esok tetap menunggu jawaban kepastian. Masihkah gue berada di
neraka ini, tempat yang sama ketika gue ngebuka mata? Ataw gue sudah
berada di surga? Entahlah!
***
Kegagalan kemarin menjadi efek kehidupan, bukan cerminan! Meski wajah
Rakha terbilang gak jelek-jelek amat, gak ganteng juga, bodoh kagak,
pinter juga kagak. Daripada bingung, ia lebih baik pilih diem, biar itu
jadi sebuah pertanyaan yang gak penting!
Di bilang sombong, Rakha gak menepis wataknya. Mereka berhak menilai,
mereka punya pendapat! Percuma, temen sebanyak itu hanya mendekat
jikalau ada tugas, ada latihan, ada pe-er, kalo lagi dapet pertanyaan
yang sulit dijawab, kalo ada ulangan dadakan, kalo ada ulangan harian,
sampe ujian semester. Intinya kalo mereka ada yang merasa butuh; kalo
lagi butuh temen curhat, kalo lagi butuh pinjeman, kalo lagi disaat Ia
gak butuh temen! Rakha pun berbisik pada secarik kertas, bahwa yang bisa
ngerti ini cuma satu, yaitu dinding yang tebal!
Gak heran, ketika Rakha sedang berada di luar kelas, secara
terang-terangan Ia dianggap tak pernah ada, gak banyak yang menyapa gue,
dan Rakha bukan orang yang pandai berakting sok kenal dengan temen
sekelas yang jarang berani ngobrol sama dia. Apa setidaknya mereka
merasa amnesia, kepada siapa mereka minta pertolongan di saat darurat?
Rakha juga gak mo jadi sok pahlawan di lingkup mereka. So, it’s so
complicated! It’s not fair!
Kira-kira sepertiganya saja, jangankan menyapa, senyum aja males. Ia
hanya sekedar menunggu kesadaran mereka. Siapa yang butuh? sekarang atau
nanti? Mungkin sebagian orang masih menilai Rakha cowok innocent,
terutama kaum cewek!
Bukan salah mereka tidak menganggap Rakha ada. Pada dasarnya, Rakha
emang salah! Ia telah melakukan tendangan bunuh diri. Angka itu di dapet
tim laen, gak ada toleransi. Tak heran, mengapa mereka nge cap Rakha
sebagai pecundang. Jangan harap tim lawan akan membela, itu
keberuntungan bagi mereka, bukan suatu kecurangan. Rakha punya pandangan
sendiri setiap kali Ia menerawang. Dunianya berbeda, gak bisa di
campuri orang awam. Ia orang yang sulit berkomunikasi ataupun
berbasa-basi, Ia orang yang munafik, bahkan lebih buruk dari itu!
Selama jam pelajaran berlangsung. Rakha tetap duduk menyendiri tanpa
dipedulikan yang lain, masing-masing sibuk dengan ganknya. Padahal vonis
menjatuhkan, mereka harus menyelesaikan sepuluh soal essay di halaman
tiga7, pelajaran biologi. Namun sepertinya, ngobrol lebih asik ketimbang
pusing mikirin tugas!.
Pikiran Rakha Blank! Apa lebih baik ngaku sakit aja, lalu izin pulang?
Ia sudah gak sanggup lagi konsentrasi. Soal yang dikerjakannya baru 5
yang kelar,.. mudah-mudahan Bu Aidah bisa maklumi ke absenan Rakha.
“Permisii,..?” suara itu datang dengan tiba-tiba.
Rakha menoleh dan melihat sosok cowok manis yang tingginya tak beda jauh
dengan Rakha, pendek! warna kulitnya hitam, seragamnya tampak rapih dan
pas dengan bentuk tubuhnya, cakep dan sopan. Tidak ada yang dikenal
Rakha di kelas ini, meskipun MOS udah lewat beberapa minggu sebelumnya.
Mana bagi Rakha, tampang-tampang masyarakat sini lebih dominan kulit
item kecoklatan. Enggak Negro2 amat. Jadi, jangan pernah takut kalo
tersesat diarea sini.
“Boleh guw numpang disini bentar, dibelakang ribut banget,..” sambungnya.
Rakha Cuma diem, padahal batinya bergumam “suka-suka lo, ni bangku juga bukan punya gue!”
Iapun, duduk cukup lama disamping Rakha. Keduanya sama sekali tak
tertarik memanfaatkan waktu untuk saling mengenal lebih jauh, Emank mo
pacaran?? Dan belom lama, Rakha mendengar si cowok itu mengeluh.
“Duh, soal nomer dua ini, gimana ngisinya??” celotehnya gak karuan.
Rakha sama sekali tak ingin berbasa basi sedikitpun, ia masih mematung
tanpa ekspresi. Hanya mengatur nafas, berharap agar si cowok ini
mendekat bukan untuk menyontek, maksudnya.
Rakha memperhatikannya dengan mata curiga. Dengan kolotnya, si anak
laki-laki itu membolak-balik halaman. Berpura-pura mencari, dan tiba
waktunya. Matanya nyosor ke bigbos Rakha.
“Lu sudah, Ka?! Dapet dari mana?”
Awalnya, Rakha udah kesel. Siapa sih, ni anak? Ternyata namanya Deddi
Kurniawan, adek ceweknya pasti bernama Della Kurniawati! Itupun kalo
ada.
“Coba lu buka hal 24, ada bagan, trus lo salin semuanya,..”
Deddi langsung nurut perintahnya,. Dan mimik wajahnya berubah kaget
“Wah.! Segini? Males banget!” katanya “Entar aja deh kalo gitu. Thanx
ya, Ka!” ujarnya berpamit ria.
Rakha cuma bisa menggerutu “Dasar!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar