Rakha kaget bukan maen, pas ngeliat namanya tercantum di salah satu
anggota paskibra untuk momentum 7belasan. Rakha rada beringas, ia
ngeliat daftar nama yang menurutnya begitu asing, bahkan satu satunya
yang dapat dicarinya hanyalah ketua Osis. Dan jawaban yang di dengarnya
“Gue sekedar ngumpulin nama doang, dan kalo lo nanya siapa sumbernya, itu Daniel. Gue gak mo ikut campur lagi!”
Pikirnya, Daniel makin besar kepala aja, mentang-mentang baru jadi
formatur Osis. Padahal belom jadi ketua,. Dan Rakha langsung nemuin dia
diruang kelasnya.
“Nama laen banyak, Dan! Napa mesti gue?”
“Gak bisa, Ka. Setiap kelas udah punya kandidat masing-masing, gue gak punya alternative laen. Kecuali rekomendasi in nama lo!”
“Ya, pertanyaannya kenapa harus gue? Lu belagu nekat tanpa ada konfirmasi dari gue dulu sebelumnya..”
“Tapi, Ka. Gue minta maaf sama lo, nama nama yang tercantum itu udah
diresmi in dan di tanda tangan sama pak Najmi. Gak bisa di rombak lagi,
ini sudah syah!” terang Daniel.
“Gue gak mao jadi Protokol! Gue gak bisa! Seandainya acara itu gue bikin ancur? Lu sanggup nahan malu!” ancemnya rada kecewa.
“Kalo dia gak bisa, gue mau gantiin..” nada suara ketiga diruang itu
bikin Rakha sama Daniel menatap ke sumbernya. Biant sedikit grogi, tapi
di hatinya meyakinkan, kalo ia pasti sanggup.
Rakha menatap mata Daniel.. “Pasti ada cara, Dan. Elo denger sendiri,
kan?” lalu Rakha meninggalkan keduanya dan memilih standby dibangkunya.
Sekarang Daniel yang mencoba menatap keseriusan Biant.
“Memang aneh, anak itu!” gerutunya. Biant hanya tersenyum mendengarnya.
“Lo, entar siang ikut latihan..” ajaknya ke Biant, sementara Biant
bisanya manggut.
Yang namanya Biant itu, bagi Rakha tidak begitu asing akhir akhir ini.
Meski ia termasuk dalam rombongan Mohad, tapi kontak matanya selalu
mengarah kemana perginya Rakha. Even jam istirahat, Rakha sering nangkep
basah mata Biant melirik kepada nya. Berulang kali malah! Namun kalo di
dalem kelas, tidak ada reaksi mendekat sama sekali, padahal itu tidak
sulit dilakukan. Apalagi dia tau, dibangku sebelah Rakha selalu kosong.
Jika memang ada yang ingin dibicarakannya, mengapa tidak dengan segera?
Heran!
Tadinya, Rakha merasa risih karna pantauannya agak sedikit berlebihan
setiap saatnya. Tapi ia sadar, Kebiasaan seperti itu, bukan Biant saja
korban nya. Mungkin Biant hanya salah satu dari mereka yang Iri kepada
Rakha, karna ada hal yang Rakha miliki yang tidak banyak dimiliki para
siswa disini, yaitu kepribadian yang misterius dan wajah yang imut.
Pernah, suatu kali waktu Rakha mampir ke warung makan. Tiba saja sadar
kalo ada Biant disampingnya, entah kenapa? Rakha agak sedikit takut,
sosok Biant tidak seperti pria lain pada umumnya. Kalo semua orang
membicarakan Rakha sebagai orang yang misterius, tapi bagi Rakha, Biant
lah orang yang pantas dijuluki makhluk misterius itu. Sialnya, setiap
kali ada kesempatan antara mereka berdua, selalu keduanya tidak berani
angkat bicara. Bahkan mereka tidak saling tersenyum sama sekali. Apalagi
menyapa.! Rakha sempet mikir, apa yang ada dikepala Biant saat
menengoknya?
“Hei!” Tasya memergoki Rakha yang sedang ngelamun. “Entar sore kerja kelompok, yuk!” ajak Tasya malu malu.
“Soal apa? Koq gue gak pernah inget ada tugas?” Rakha gagap.
“Pelajaran kimia,.. masak lupa sih. Sekalian makan makan.”
“Siapa aja yang ikut?!”
“Banyak, mm.. Arjunot, Melani, si A, si B, C, D, E,.. ama Biant!”
Nama terakhir bikin Rakha terkejut. Kontan Rakha menoleh kearah Biant
dan Biant menatapnya juga dari jarak kira kira sepuluh meteran. Lalu
jantung Rakha berdegup. Gawat! Ini kali pertamanya dia yang kepergok
mandangin Biant, bisa jadi Biant malah ngerasa G R!
“Mmm,.. kayaknya, gue gak bisa! Soalnya gue punya kerjaan laen.”
“Mana bisa, Ka. Lo harus ikut! Apa lo gak mo dapetin nilai A. Pak Nasrul
lagi baek banget soalnya, dia lagi promo diskon nilai.. asal kerja
sama” tutur nya berbangga.
Rakha mulai memelas dan berubah jadi hangat “Tolonglah, Tasya,.. gue
punya kerjaan sampingan, lu gak mao reputasi gue ancur, sementara gue
lagi gencar gencarnya nyari muka ke Bos gue. Ayolaaah, plisss..”
“Trus, kalo anak laen tau gue berlaku curang, gimana?? Gue juga kan punya reputasi!”
“Gue yakin lu pasti bisa bikin yang laennya maklum, Tasy,.. tolonglah, gue minta nyawa sekalian.” Seruduk Rakha manjaan.
Sejenak si Tasya mikir, sambil mengatur nafas. Jawabannya adalah tersenyum kalem “iya deh,..” katanya seraya manggut manggut.
Mampus! Sekarang perdana mentri nya udah Rakha atur, bidak yang laen
pasti pada ngikut. Entah kenapa, Tasya orangnya seneng banget kalo
disuruh suruh? apalagi kalo Rakha yang minta. Hehe,.. padahal, Rakha tau
makna dibalik acara ini. Pasti pamer kekayaan. Biar dikata Tasya anak
keturunan Raja sekalipun, Rakha gak akan mudah luluh.
***
Seperti biasa, sudah jadi rutinitas Rakha kalo di jam belajar dan
Gurunya ninggalin catetan untuk di tulis di papan, Rakha lebih milih
ngegambar manga. Kadang menjurus ke yang jorok sedikit, semisal dua
tokoh yang lagi ciuman atau sosok pria dengan postur tubuh yang polos
tanpa busana. Kala itu, Biant duduk disampingnya tanpa terngiang kata
permisi sebelumnya. Spontan Rakha gelagapan, dengan segera menutup apa
yang telah dicoretnya. Anehnya, ia berubah jadi salah tingkah campur
malu, takut ketauan!
Padahal, sikap Biant normal normal aja. Ia nampak serius menyalin
tulisan dipapan sambil munggungin Rakha. Dalam hati, Rakha mulai
terpesona abis. Gimana kalo punggung Biant aja, dia lukis. Kan, bodynya
lumayan atletis, narsis!
Lagi lagi, kenapa Rakha tak bisa berperan seperti cowok yang jutex?
Kenapa tiba saja hatinya mencair kalo nama atau sosok Biant hadir di
dunianya? Ia sendiri tak mampu menjelaskan perasaan ini, entah sejak
kapan? Mungkin sejak mata perhatian Biant yang diam diam mengagumi
Rakha! Atau jangan jangan Biant termasuk cowok yang punya seribu pesona?
Aduuuh,.. yang jelas. Sekaranglah waktunya Rakha membuka diri. Mungkin
harus ada seseorang yang bisa dianggapnya sahabat sejati. Terang saja,
Biant amatlah berbeda. Sikapnya, geraknya, bahkan matanya.. penuh sirat
akan kehangatan.
Waktu berjalan begitu singkat, meski Rakha merasa tak keberatan akan
kehadirannya, meski siang ini Rakha tak mengusirnya. Tapi, Biant terpaku
hanya sebentar. ia lalu kembali ke meja nya. Rakha menyesal, apa yang
jadi salahnya? Biarlah ia tak bicara, asal ia masih tetap disini sampai
mata raka merasa puas akan memandangnya, mencium aromanya, menahan
gejolak jiwa, mempengaruhinya, kan selama ini selalu Biant yang
memandang Rakha dari kejauhan. Jika sedekat itu, ingin rasanya Rakha
membalas perhatiannya. Namun segalanya di sayangkan. Waktu hanya
terbuang sia sia lagi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar