Mata guw pa gak salah liat? Mocky and the gank ngedat-ngedot melangkah dengan santainya mengelilingi perumahan sekitar.. tumben, rajin amat? Guw pun berinisiatif memanggil dan mengejar mereka. Pintu gerbang terbuka mulus dan guw bisa keluar masuk kapan saja.
Sampai di antara ketiga kucing local itu. Maybe, sebagian manusia yang melirik empat kucing local mangkir dijalan adalah hal teraneh, tapi bagi kami ini tidak mustakhil. Namanya juga kita berempat kucing rumpi.. hoho. Peduli amat dengan pikiran mereka. Dan guw langsung angkat bicara
“Mocky, kenapa harus ada pertemuan yang gak jelas di pabrik itu? Kenapa tidak kita selesaikan disini saja!” bentak guw agak rada menantang.
Lagi-lagi tawa si Mocky berlaku sok “Aku cuma sekedar menguji seberapa besar nyalimu menghadapi tantangan kami, jika kau masih ingin berkuasa atas wilayahmu sendiri.. terus terang, aku takkan pernah suka dengan kehadiranmu… kau bilang, kau dan Rocxy bersahabat, tapi kau malah membohongi kami. Kau kan terima akibatnya nanti”
“Maaf, bukan maksud guw untuk..”
“Sudahlah,..!” potong si Kucel “Kami sudah terlampau kesal!”
Tampang mereka sore itu keliat angkuhnya minta ampun, tidak ingin membuka rahasia ataupun kisi-kisi tentang tantangan besok sore, tapi bukan berarti guw takut.
“Ngomong-ngomong, ada makanan apa sore ini dirumahmu? Mungkin kau bisa suguhkan sesuatu agar kami bisa bertamu.. heheh” ledek si manis, entah kata-katanya serius? karna si manis memang kucing yang tak bisa marah, kalopun diusahainya, malah makin tak nampak kalo itu sifat aslinya.
Guw hanya terdiam sejenak, namun beberapa detik kemudian terdengar suara gonggongan dari kejauhan. Kami berempat sadar begitu mendengar keributan yang samar-samar menjadi nyata. Kami menyadari itu suara Rocxy!
Entah, perasaan masih tetap sama ketika guw teringat kedatangan Rocxy yang ingin membunuh guw, Si Rocxy nekad keluar jalur batasnya saking nafsunya mengusir kucing rumpi ini, guw keukeuh berdiri ditempat sementara ketiga kucing preman itu langsung ngibrit sebirit-birit nya sampe sembelit,..
“Lariiiii!!!..” perintah Mocky menyarankan. cara berlari mereka tidak satu arah, seperti masing-masing ingin menyelamatkan diri sendiri tanpa peduli kemana temannya pergi, mungkin lebih baik mereka langsung naik kepohon saja agar selamat.
Karna guw cuma sendiri, dan bisa saja diterkamnya sampai guw mati. Tapi ketika Rocxy berada disamping guw, ia tidak menyerang sama sekali, malah terhenti dari lari. walaw masih menggonggong keras dan galak. Guw heran sekaligus berfikir, kali ini si Buldog ngebela guw????
“Aku minta maaf atas kesalahan ku kemarin yang sempat mencakar tubuhmu,..” akunya, guw pun turut menyesal “Sudahlah, guw tak mempermasalahkan itu” sahut guw cool.
“Lantas, bagaimana keadaanmu sekarang? Apa mereka bertiga melukaimu??”
“Tidak, guw rasa tidak sekarang…”
“Kenapa, kau begitu tampak pesimis??..”
“Ya, semestinya kucing yang normal memang harus dan sudah menjadi kodratnya untuk berpesimistis, karna pikiran kucing itu jauh lebih banyak daripada manusia ataupun anjing yang egois, untungnya kami gak gampang stress?”
“Tenang saja, sebagai balas nya, malam ini aku akan lakukan sesuatu untuk membahagiakanmu. Kau tenang-tenang saja didalam rumahmu, esok kau akan dapatkan kabar bahagia tentang ketiga musuhmu…”
“Guw takut lo akan terluka, ingat Rocxy, meski mereka tidak sekuat otot lo tapi mereka teramat licik. Mereka takkan puas jika belum mengerjai guw”
“Lihat, saja esok pagi. Kau akan tau..” Rocxy memutar tubuhnya dan pulang kerumahnya sambil memunggungi guw, walau guw terus memandangi kepergiannya yang jalan secara perlahan, namun ia sama sekali tidak memperdulikan guw..
***
Malam itu, didapur. Dikala jam tugas ronda guw, Guw kedatangan tamu sicanti Clara, tikus nakal ini masih saja hidup.. guw pikir udah mati ke kenyangan! Salutnya, kedatangannya kali ini tidak disertai teman groupnya yang ingin mencuri banyak menu stock makananya, ia sekedar ingin mengabarkan sesuatu…
“Ada peraaaangggg, adaaaa peraaaannnggg!!!...” katanya belagu ketakutan
Guw mengernyitkan dahi “Ceritakan dengan jelas Clara, kenapa ekormu berdarah?”
“Aku sudah perintahkan pada pasukanku untuk tidak mencampuri urusan kucing-kucing preman itu, tapi apa yang terjadi, aku harus terima luka ini sebagai bentuk wujud kesetiaanku,.. aku yakin beberapa pasukanku sudah ada yang gugur..”
“Apa kucing preman itu menyerang benteng kalian?”
“tidak, Bian! Hanya saja mereka berperang diwilayah kami. Saat itu, Mocky yang kelaparan hendak memangsa beberapa kaum tikus, lalu secara spontan, ada serangan dadakan dari Si Rocxy, bersama anjing-anjing lainnya, alhasil keributanpun terjadi malam ini, bahkan ada manusia yang menumpahkan air panas demi melerai perkelahian ini. Perang terus terjadi, bian. Ya ampuuun istanaku pasti sudah hancur lebur.. dimana lagi aku musti tinggal??” harapan mata Clara tertuju pada guw
“Tidak, Clara! Guw tidak mengizinkan lo Tinggal dirumah ini. Apa kata keluarga ini jika kucing mereka sendiri yang menyembunyikan musuhnya kedalam rumah. Sebaiknya lo cari saja tempat yang lebih aman..” pikiran guw jadi serba salah kali ini. “Sial!, bagaimana aku ingin keluar??? Semua pintu terkunci” guw terus berusaha mencari-cari jalan keluar agar bisa melerai pertempuran mereka, kasihan kaum tikus yang tak bersalah apa-apa…
Selagi pikiran guw masih belom jernih dan masih mencari-cari akal agar bisa keluar secepatnya dari sini, guw malah tambah kesal akibat tingkah Clara yang keadaan sesempit ini masih bertindak mencuri.. ia guw liat ada diatas meja makan terhasut oleh aroma ikan yang menyengat.
“Hei! Ataw lo yang jadi korban guw disini Clara, lo pikir disini aman?”
“Maaf, aku hilaf” ujar Clara ketakutan lalu berlari meninggalkan dapur ini untuk kesekian kali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar